15 Terpidana Mati Segera Dieksekusi

SEMARANG – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah menambah jumlah personel regu tembak dari semula 130 orang jadi 150 orang. Penambahan personel tersebut menyesuaikan jumlah 15 terpidana mati yang akan dieksekusi di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

“WNI (warga negara Indonesia) ada 5 orang, 1 perempuan dan 4 laki-laki keturunan. Mereka terpidana mati dalam kasus penyalahgunaan narkoba,” kata Kabid Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah Kombes Pol A Liliek Darmanto saat menyampaikan keterangan pers di Markas Polda Jawa Tengah, Selasa (10/5/2016).

Sedangkan 10 orang di antaranya, lanjut Liliek, adalah warga negara asing. Rinciannya, 4 warga China, 2 Nigeria, 2 Senegal, 1 Pakistan, dan 1 Zimbabwe. Namun Liliek enggan menjelaskan secara rinci sejumlah nama dan identitas para terpidana yang hendak dieksekusi itu.

Mengacu undang-undang yang mengatur tata laksana eksekusi mati, tiap satu terpidana akan menghadapi 10 penembak. Sehingga dalam eksekusi terhadap 15 terpidana, disiapkan 150 orang penembak.

Menurut Liliek, selain regu tembak, masing-masing tim ditambah dua personel Brimob yang punya tugas lain. “Tugasnya menyenter sasaran tembak, menggunakan senter. Untuk tidak terlalu lama (proses eksekusi), karena akan dilakukan serentak,” ucapnya.

Personel regu tembak itu sampai saat ini masih berada di markas dan belum diberangkatkan ke Nusakambangan. Namun, jika jaksa sudah meminta dan memberikan kepastian waktunya, para eksekutor ini siap diluncurkan ke lokasi eksekusi mati.

“Mereka sudah dilatih berhara-hari, agar pelaksanaan (eksekusi) aman,” ucapnya.

Selain melibatkan anggota Brimob, Polda Jawa Tengah juga mengirim tim dokter dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) untuk keperluan eksekusi ini. Dokter inilah yang memastikan terpidana sudah benar-benar tewas sebelum diproses lebih lanjut. “Kami Polda Jawa Tengah, melaksanakan tugas negara,” katanya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Jawa Tengah Bambang Sumardiono, mengaku sejauh ini belum menerima informasi lebih lanjut soal rencana eksekusi mati, termasuk permintaan koordinasi.

“Belum ada yang masuk sel isolasi (terpidana mati). Kalau pengamanan, tentu secara rutin dilakukan. Di Nusakambangan memang kan yang berat-berat (kasusnya), ada yang seumur hidup, terpidana mati,” ungkapnya. (eki)