loading...
Maroef Beberkan Rekaman Skandal Freeport | We Give The Real Solutions

Maroef Beberkan Rekaman Skandal Freeport

JAKARTA – Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin mengungkapkan kronologi pertemuannya dengan Ketua DPR Setya Novanto saat bersaksi di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Saat pertemuan pertama yang berlangsung sekitar April 2015, Maroef mengaku pihaknya terlebih dulu mengirimkan surat kepada Ketua DPR. Hal itu menindaklanjuti arahan anggota Komisaris PT Freeport Indonesia Marzuki Daroesman agar dirinya bertemu Novanto dan para ketua lembaga, dalam hal ini Ketua MPR dan Ketua DPD. Karena itu, setelah bertemu dengan Novanto, Maroef juga mengaku bertemu dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Ketua DPD Irman Gusman. Namun, hanya Novanto saja yang meminta pertemuan dilakukan empat mata.

”Ketua DPR melalui stafnya meminta hanya saya saja yang menemui di ruangan kerjanya,” ungkap Maroef saat bersaksi dalam persidangan MKD di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Dalam pertemuan empat mata itu, Maroef mengaku hanya membawa sebuah dokumen mengenai profil PT Freeport Indonesia. Pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar 40- 60 menit.

”Menjelang akhir pertemuan, Ketua DPR mengajak, Pak Maroef kapan-kapan kita ketemu lagi ngopi-ngopi. Saya akan kenalkan dengan kawan saya,” ungkap Maroef mengutip pernyataan Novanto saat itu.

Setelah beberapa lama dari pertemuan pertama itu, Maroef menerima pesan singkat atau SMS dari Novanto. ”Isinya singkat, Bisa saya call (panggil)?,” beber Maroef.

Mendapatkan SMS dari Ketua DPR, Maroef merasa tidak sopan jika membalasnya dan kemudian menunggu ditelepon. Karena itu, dialah yang menelepon Setya Novanto. ”Saya merasa lebih santun kalau saya yang menelepon,” kata Maroef.

Dalam pembicaraan di telepon tersebut, lanjut Maroef, Novanto mengajak bertemu dengan tempat ditentukan oleh Novanto pada 13 Mei 2015 di Hotel Ritz Carlton, Lantai 21. Pertemuan ini berlangsung kira-kira satu jam. Pada pertemuan inilah Maroef mengaku menangkap keanehan.

Sebab, ketika masuk tempat pertemuan, sudah ada seseorang yang tidak dia kenal, yakni orang yang kemudian dikenal sebagai M Riza Chalid yang tak lain seorang pengusaha. Lebih mengherankan lagi, menurutnya, karena dalam pertemuan kedua tersebut Riza dan Novanto malah membahas perpanjangan kontrak Freeport.

”Setelah pertemuan itu, saya analisis secara pribadi dan insting saya jalan, kenapa perpanjangan kontrak Freeport dibahas Ketua DPR dan pengusaha? Kenapa Pak Ketua DPR tidak didampingi komisi dan kolega DPR yang lain,” ujar Maroef. Apalagi, setelah pertemuan itu, Riza yang kemudian mengajak bertemu dan menyatakan akan mengajak juga Novanto.

Atas ajakan itu, Maroef kemudian meminta stafnya untuk menanyakan staf Novanto mengenai kebenaran rencana pertemuan tersebut. Setelah mendapatkan kepastian dari stafnya, barulah dirinya mengiyakan ajakan tersebut. Merasa curiga, Maroef merekam percakapan dalam pertemuan ketiga pada 8 Juni lalu yang diinisiasi Setya di tempat yang sama. Usai duduk di sebelah kiri politikus Golkar dan di depannya ada Riza, Maroef mengeluarkan telepon genggamnya dan merekam pembicaraan yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut.

”Waktu saya masuk, HP saya di atas meja, sudah dalam posisi merekam. Posisi duduk, sebelah kiri saya Pak Ketua DPR, sebelah kanan Saudara Riza. HP saya taruh diatas meja. Tidak berhenti sedikit pun sampai selesai,” bebernya.

Maroef menyatakan bahwa hanya dirinya yang menyimpan rekaman itu dan tidak memberikan ke siapa pun juga. Bahkan kalau Menteri ESDM Sudirman Said tidak meminta, dia pun tidak akan memberikannya.

Telepon selular milik Maroef sempat menjadi objek bahasan menarik bagi anggota MKD. Ponsel itu dianggap berharga karena dipakai Maroef untuk merekam perbincangan antara dia, Setya, dan pengusaha minyak Riza Chalid.

Pimpinan sidang MKD Sufmi Dasco Ahmad, menanyakan merek ponsel Maroef yang dipakai untuk merekam ucapan Setya. Durasi percakapan yang direkam total sepanjang 1 jam 27 menit.

“Kalau boleh saya menyebutkan, ponsel jenis Samsung,” jawab Maroef.

Setelah selesai menyampaikan kronologi pertemuan hingga merekam percakapan, Wakil Ketua MKD Junimart Girsang selaku pimpinan sidang meminta rekaman asli demi verifikasi bukti oleh MKD.

Namun Maroef belum bisa menyerahkannya karena rekaman asli dalam ponselnya sudah diberikan kepada Kejaksaan Agung (Kejagung) karena diminta. Mantan Wakil Kepala BIN itu berjanji segera memberikan rekaman asli kepada MKD jika keperluan di Kejagung sudah selesai.

Beberapa anggota MKD dalam persidangan mencecar Maroef atas tindakannya yang dinilai melakukan perekaman secara ilegal. Mereka yang mempermasalahkan perekaman itu antara lain anggota MKD dari Fraksi PDIP Marsiaman Saragih, anggota MK Ddari Fraksi PartaiDemokrat DarizalBasirdan Guntur Sansono, serta anggota MKD dari Fraksi Partai Golkar Adies Kadir.

Sementara itu Jaksa Agung M Prasetyo mengaku Maroef Sjamsoeddin sudah memberikan keterangan kepada Kejagung terkait kasus rekaman.

Selain itu Maroef juga sudahmenyerahkan telepon selulernya yang diduga menjadi alat perekam. ”Betul (Kejagungmenerima HP). Karena ini kan untuk kepentingan penegakan hukum,” ungkap Prasetyo di Kejagung, Jakarta, kemarin. Prasetyo juga mengaku baru mendapat kabardari JaksaAgung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) karena pemberian keterangan tersebut dilakukan di Gedung Bundar, Kejagung.

Prasetyo menyatakan, pemberian keterangan ini sangat tepat dilakukan mengingat perkara ini sudah masuk pada ranah penyidikan. Ke depan, lanjut Prasetyo, pihaknya akan mencari keterangan dari sumber-sumber lain termasuk kepada orang yang suaranya ada dalam rekaman tersebut.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta keterangan dengan orang-orang yang berkaitan seperti Menteri ESDM Sudirman Said yang melaporkan kasus tersebut ke MKD DPR.

”Kita ingin mengembangkan dan mencari bukti-bukti awalnya yang cukup untuk mengembangkan kasus ini,” ungkapnya.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Amir Yanto juga membenarkan adanya permintaan keterangan terhadap Maroef Sjamsoeddin. ”Dalam hal ini bukan diperiksa, melainkan sekadar dimintai keterangan. Karena ini masih tahap penyelidikan,” ungkap Amir.

Menurut dia, tidak menutup kemungkinan Kejagung juga akan meminta keterangan dari pihak-pihak lain selama hal itu dibutuhkan oleh tim penyelidik. ”Tapi belum tahu jadwal dipanggilnya pihak-pihak lain kapan,” tandasnya. Pihaknya saat ini sedang mengumpulkan data-data yang dibutuhkan serta keterangan yang relevan dengan perkara ini. Setelah data itu ter-kumpul, Kejagung akan melakukan analisis apakah ada dugaan korupsi di dalamnya. ”Kalau ada nanti kita naikkan ke penyidikan,” katanya.