Latif dan Indri

Anggota Polisi dan Istri Siri Divonis Mati

SURABAYA – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan vonis mati kepada anggota Polsek Sedati Aiptu Abdul Latif (41) dan istri sirinya Indri Rahmawati (31), Senin (1/2/2016). Kedua terdakwa dinilai terbukti melakukan pemufakatan jahat tanpa hak atau melawan hukum, mengedarkan narkotika golongan 1.

Dalam putusan Ketua Majelis Hakim Ferdinandus menyatakan, Latif dan Indri bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana dakwaan primer jaksa penuntut umum (JPU). Keduanya dinilai menjadi perantara bisnis sabu-sabu dari Tri Diah Torissiah alias Susi serta Yoyok (dua terdakwa lain yang telah disidangkan).

Vonis mati terdakwa Latif sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Karmawan dari Kejari Surabaya dalam sidang sebelumnya. Sementara terhadap terdakwa Indri, vonis ini lebih berat dari tuntutan JPU dengan hukuman penjara seumur hidup.

Menurut hakim, hal yang memberatkan, baik Latif maupun Indri, dianggap tidak mendukung program pemberantasan narkoba yang dicanangkan pemerintah. “Dampak perbuatan kedua terdakwa bisa merusak generasi anak bangsa Indonesia,” kata Hakim Ferdinandus di Ruang Garuda PN Surabaya.

Khusus untuk Latif, hakim menambahkan, sebagai penegak hukum seharusnya Latif bisa memberikan contoh baik kepada masyarakat. Namun, perbuatannya justru mencerminkan Latif bukan contoh baik dalam upaya pemberantasan narkoba.

Selain itu, hakim menyatakan tidak ada alasan pembenar atau pemaaf dari perbuatan Latif dan Indri. Hakim Ferdinandus juga mementahkan pembelaan (pledoi) terdakwa Abdul Latif, yang pada persidangan sebelumnya minta dibebaskan dari segala tuntutan JPU.

“Oleh karenanya, menjatuhkan pidana mati untuk kedua terdakwa dan memerintahkan supaya kedua terdakwa tetap berada dalam tahanan hingga putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap,” kata Ferdinandus mengetuk palu putusan.

Latif yang mengenakan kemeja coklat berlapis rompi tahanan berwarna merah sejak awal sidang pembacaan putusan terlihat tenang. Mantan atlet judo nasional itu duduk di kursi pesakitan bersama Indri, pandangannya terlihat tegas ke depan menatap para hakim. Namun, mendengar vonis yang dijatuhkan untuknya, Latif menghela napas panjang. Saat dimintai tanggapan, dia menyatakan bakal mengajukan banding. “Saya banding,” katanya.

Pernyataan Latif diperkuat penasihat hukumnya, Solekah, dari Bidang Hukum (Bidkum) Polda Jatim. Dia menegaskan bakal mengajukan banding sebelum 14 hari seusai vonis kemarin. Menurut Solekah, majelis hakim dalam putusannya mengesampingkan fakta-fakta yang disampaikan dalam pembelaan di antaranya prestasi yang ditorehkan Latif selama bertugas.

“Ada 235 kasus narkoba pernah diungkap dan itu tidak dijadikan pertimbangan meringankan,” kata Solekah seusai persidangan. Selain itu, kata Solekah, Latif juga tak pernah menerima uang sebagai kompensasi penjualan sabu-sabu. Faktanya uang Rp20 juta yang disebutkan berasal dari Susi dan Yoyok dikirimkan ke rekening Indri, bukan rekening Latif. “Itu akan kami sampaikan dalam memori banding nanti,” kata Solekah.

Langkah banding juga dilakukan Indri. Penasihat hukumnya, Yuliana Heryantiningsih menyatakan, Indri sebenarnya hanya korban. Dia dimanfaatkan Latif memperlancar bisnis narkoba yang digelutinya. Apalagi sebelumnya, JPU hanya menuntut Indri hukuman seumur hidup. “Karena itu kami langsung banding,” kata Yuliana.

Sementara tim JPU masih pikir-pikir. Sebab masih ada waktu 7 hari menentukan sikap atas vonis hakim kemarin. Jaksa Gusti Putu Karmawan mewakili JPU mengatakan hasil persidangan tersebut masih akan dipelajari lebih lanjut.

“Nanti akan kami laporkan kepada pimpinan dulu,” katanya.

Kasus yang menyeret Latif dan Indri bermulai pada 21 Mei 2015, saat Satuan Reserse Narkoba Polretabes Surabaya mendapat informasi ada jaringan narkoba yang dikendalikan dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo. Dari hasil penyelidikan diketahui pengendali jaringan sabu-sabu itu adalah Tri Diah Torissiah alias Susi, salah satu penghuni Rutan Medaeng.

Dari hasil pengembangan diperoleh nama oknum anggota Polsek Sedati, Sidoarjo, Aiptu Abdul Latif, dan Indri Rahmawati, yang belakangan diketahui sebagai istri sirinya. Selama sebulan, polisi mengintai dan akhirnya memastikan ada aktivitas berkaitan dengan peredaran narkoba yang dilakukan Latif bersama Indri. Pertengahan Juni, polisi menggeledah rumah kos Latif dan Indri di Jalan Pasar Wisata, Sedati, Sidoarjo.

Di rumah kos itu polisi menemukan barang bukti berbungkus-bungkus plastik berisi sabu-sabu dengan total berat sekitar 22 kilogram. Indri mengatakan serbuk kristal putih itu diperoleh dari Susi di Rutan Medaeng. Barang tersebut diambilnya di sebuah hotel di kawasan Pakuwon pada April 2015. Total sabu-sabu yang diambil ketika itu kurang lebih 57 kilogram (kg). Lebih dari setengahnya telah terjual dan tersisa 22 kg.

Dalam pengembangan lebih lanjut, jaringan ini mengarah ke nama Yoyok, penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan. Yoyok kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan dipindahkan ke LP Porong.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *