Pengawalan kepada para tahanan

Ajukan PK, Pengacara Perjuangkan Yehezkiel dari Vonis Mati

BATAM — Irwan S Tanjung, pengacara Yehezkiel Ginting, terpidana pembunuh empat orang mengaku akan terus memperjuangkan kliennya dari vonis hukuman mati. Dalam sidang lanjutan Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu, 18 Mei 2016, Irwan menyayangkan jawaban Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dinilainya tidak menyinggung masa penahanan Yehezkiel yang sudah 9 tahun lebih.

“Penahanan apa selama itu, sementara terpidana belum mendapat kepastian hukum yang inkrah,” katanya.

Irwan membeberkan, dari tujuh poin keberatan dalam permohonan PK yang diajukan bersama Lai Hendaryano Pasaribu, JPU hanya hanya mengulas materi hukum saja. Sedangkan terkait motivasi pembunuhan yang dilakukan Yehezkiel dan kejujuran saat pertama kali diamankan tidak ditanggapi. Kepada majelis hakim yang diketuai Zulkifli dan hakim anggota Hera Polosia dan Imam Budi, JPU Rumondang Manurung dan Triyanto menolak permohonan dalil-dalil pemohon dalam perkara yang sudah berlangsung 11 tahun tersebut.

“Hukum-lah Yehezkiel seribu tahun, tapi jangan dihukum mati. Apapun akan saya lawan,” kata Irwan.

Selain upaya hukum terakhir itu, Irwan juga sedang menyiapkan gugatan terkait terkait putusan yang dinilainya cacat hukum ke PTUN. Pihaknya juga akan menyurati Komisi III DPR RI untuk meminta rapat dengar pendapat sehubungan hilangnya berkas Yehezkiel serta jaksa yang dinyatakan banding dan kasasi, padahal tidak.

“Bukan jaksa, tapi kami yang menyatakan banding dan membuat perlawanan atas vonis mati pada tingkat banding di Pengadilan Tinggi Riau hingga kasasi ke Mahkamah Agung, ” kata Irwan.

Menanggapi pernyataan pengacara Yehezkiel, JPU Tryanto mengatakan bahwa jaksa hanya menjawab poin-poin yang relevan saja. “Dengan tidak menjawab, bukan berarti membenarkan,” katanya.

Yehezkiel Ginting divonis mati sejak tahun 2005 silam oleh PN Batam dan diperkuat di tahun yang sama oleh Pengadilan Tinggi Negeri (PTN) Pekanbaru. Ia dinyatakan bersalah, membunuh empat nyawa sekaligus, yaitu Sarini, Indriyani Tarigan, Rehulina Sipayung dan Junitha Sari Dewi.

Sementara terkait rencana eksekusi mati, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah dikabarkan menambah jumlah personel regu tembak dari semula 130 orang jadi 150 orang. Penambahan personel tersebut menyesuaikan jumlah 15 terpidana mati yang akan dieksekusi di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Ke-15 terpidana mati itu terdiri dari 5 warga negara Indonesia dan 10 warga negara asing.

Mengacu undang-undang yang mengatur tata laksana eksekusi mati, tiap satu terpidana akan menghadapi 10 penembak. Sehingga dalam eksekusi terhadap 15 terpidana, disiapkan 150 orang penembak. Selain regu tembak, masing-masing tim ditambah dua personel Brimob yang punya tugas lain.

“Tugasnya menyenter sasaran tembak, menggunakan senter. Untuk tidak terlalu lama (proses eksekusi), karena akan dilakukan serentak,” kata Kabid Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah Kombes Pol A Liliek Darmanto saat menyampaikan keterangan pers di Markas Polda Jawa Tengah, Selasa, 10 Mei 2016.

Soal kapan waktu eksekusi, Liliek mengaku tidak bisa memastikan pelaksanaannya karena itu ranah kejaksaan. “Kami pada prinsipnya siap. Tinggal tunggu permintaan jaksa saja,” ucapnya.

Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan, pihaknya telah melakukan persiapan dan koordinasi pelaksanaan eksekusi mati tahap ketiga. Eksekusi tersebut tinggal menunggu waktu.

Prasetyo menegaskan, pihaknya tidak pernah menyatakan menghentikan pelaksanaan hukuman mati. Perang melawan narkoba juga tidak pernah putus. “Eksekusi akan jalan terus, waktunya akan kita tentukan,” ujarnya di Ceger, Jakarta Timur.

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia akan kembali mengeksekusi terpidana mati kasus narkoba. Namun, pemerintah belum menentukan waktu dan siapa saja yang akan dieksekusi dalam eksekusi mati tahap ketiga itu.

Beberapa narapidana yang divonis hukuman mati memang telah dikirim ke Nusakambangan. Terbaru, tiga narapidana mati yang mendekam di Lapas Tembesi, Batam. Masing-masing adalah Suryanto (53), Agus Hadi (53), dan Pudjo Lestari (42). Ketiganya terpidana mati kasus narkoba.

Kepala Lapas Batam Farhan Hidayat mengatakan, pemindahan tiga napi ke Nusakambang pada Minggu, 8 Mei 2016 itu tidak terkait dengan eksekusi mati. Pemindahan tiga terpidana mati sudah diusulkan sejak awal 2015 kepada Direktorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Dirjen Kemenkumham).

Farhan tidak bisa menyampaikan apakah ketiga terpidana mati itu akan dieksekusi mati. Menurutnya, keputusan itu ada pada kejaksaan. Namun, dia menegaskan pemindahan tiga terpidana mati karena semua terpidana mati dan terpidana seumur hidup akan dipindahkan dari Lapas Batam.

“Kalau masalah eksekusi mati itu kewenangan Kejaksaan yang memutuskan,” ujarnya.

Pemindahan terpidana mati dan seumur hidup akan dilaksanakan secara bertahap dari Lapas Batam menuju Lapas Klas I Nusakambangan sesuai program Dirjen Kemenkumham. Pemindahan akan terlaksana jika sudah disetujui Dirjen Kemenkumham dan anggaran telah ada.

Farhan menyampaikan untuk narapidana yang menyusul dipindahkan terjerat kasus narkoba dan pembunuhan. Napi terpidana mati dan seumur hidup berbeda dengan terpidana lainnya, untuk itu dipindahkan semuanya. Selain itu, Lapas Batam sekarang ini sudah melebihi kapasitas. (wan)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *