Alat Peraga Jadi Petaka

BATAM — Ruang debat kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri bergemuruh begitu acara usai. Puluhan pendukung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo-Ansar Ahmad (SAH) tiba-tiba bergerak ke arah Birgal Sinaga, seorang pendukung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri Muhammad Sani-Nurdin Basirun (Sanur).

Mereka menuding Birgal membawa alat peraga kampanye, hal yang dilarang dibawa dalam ruang debat. Larangan itu sudah disampaikan moderator saat mengawali debat.

“Alat peraga kampanye ini dibagi-bagikan saat debat kandidat sedang berjalan,” kata Anto, pendukung SAH sambil menunjukkan poster berwarna kuning bertuliskan ‘Sani Ayah Kita’ dan selebaran kertas berjudul ‘Jeritan Bangso Batak’.

Birgal yang jadi sasaran amuk massa lari menyelematkan diri. Ia bahkan naik ke atas panggung, mendekat ke pasangan Sanur yang sedang bersiap-siap keluar ruangan.

Polisi bergerak cepat dengan mengamankan Birgal dan mengawal pasangan Sanur dan tim pendukungnya keluar ruangan. Kegaduhan antar pendukung pasangan calon berhasil diredam dan tidak berlanjut. Namun pendukung SAH meminta agar Birgal diproses secara hukum dan menuding KPU serta Bawaslu Kepri tidak tegas menjalankan aturan debat, karena kecolongan dengan lolosnya pendukung pasangan calon membawa atribut kampanye.

Soerya sendiri mengaku kecewa dengan ternodanya kegiatan debat kandidat itu. Mengingat di akhir debat, kedua pasangan calon sama-sama menyerukan untuk menghindari kampanye hitam dan tidak sehat.

“Baru tadi kita closing statement berkampanye secara santun tanpa negatif dan black campaign, ternyata muncul kampanye tak beradab,” ujarnya.

Menurut Soerya, seharusnya pendukung pasangan calon menaati tata tertib debat. Apalagi sejak awal moderator debat sudah memberikan peringatan kepada seluruh tim sukses dan pendukung pasangan calon agar tidak membawa alat peraga kampanye ke dalam ruangan.

Soerya menyerahkan penanganan insiden di acara debat itu kepada tim hukum kampanyenya. Sebab tindakan Birgal dinilai telah melanggar hukum pidana, karena bersifat provokatif dan menyinggung isu SARA.

“Tidak harus ke Bawaslu, bisa langsung ke kepolisian sebagai tindakan tak menyenangkan, penghinaan, hasutan,” jelasnya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kepri membatasi jumlah pendukung ataupun tim sukses yang masuk dalam ruang debat publik pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri di Hotel Pacific Jodoh, Batam, Selasa (24/11/2015) malam. Setiap pasangan calon hanya boleh membawa 50 pendukung dan pihak lain yang diizinkan masuk hanyalah yang memegang undangan dari KPU Kepri.

“Pembatasan jumlah tim sukses ini untuk menjaga kondusifitas acara debat. Acara debat ini bertujuan untuk menyebarluaskan visi misi masing- masing pasangan calon dan merupakan bagian dari tahapan Pilkada pada 9 Desember mendatang,” kata Ketua KPU Provinsi Kepri, Said Sirajuddin.

Debat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri berlangsung seru. Kedua pasangan calon, Sanur dan SAH saling menguji gagasan dan program kerja masing-masing. Debat yang dipimpin moderator, Rektor UMRAH Prof Syafsir Akhlus, dibantu dua pakar budaya dan akademisi, Dr. Abdul Malik dan Suhardi Muklis yang merupakan dosen UMRAH dan Stisipol Raja Haji Fisabilillah, serta dari kalangan profesional wartawan yakni Socrates ini disiarkan langsung lewat TVRI dan RRI.

Pasangan calon nomor urut 1, Sanur mendapat kesempatan pertama menyampaikan visi misinya. Yakni menciptakan Kepri sebagai tanah melayu yang sejahtera, beraklak mulia, dan unggul di bidang maritim. Sanur juga akan mengembangkan Kepri dengan Free Trade Zone (FTZ) di Kabupaten Natuna, Anambas, dan Lingga (NAL), dan lebih membangun Batam, Bintan, dan Karimun.

NAL akan menjadi konsentrasi khusus bagi Sanur, terutama agar ada payung hukum khusus yang dikeluarkan mengenai NAL. Menurutnya potensi di NAL sangat besar, namun belum dikelola optimal. Perlu penanganan tersendiri agar dareah itu berkembang.

“Potensi pariwisatanya adalah yang terbaik di dunia. Demikian juga potensi bawah lautnya. Ke depan NAL harus diberdayakan, terutama dari segi peraturan perundang-undangan, sehingga mampu bergerak dan memberi sumbangan pertumbuhan ekonomi Kepri,” ujar Sani.

Kemudian, giliran paslon nomor urut 2, SAH menyampaikan visi misi menuju Kepri aman dan sejahtera, modern, berakhlak, serta menarik bagi investor dengan azas kebersamaan dan gotong royong. Menurut SAH, aspek keamanan akan meningkatkan nilai investasi yang berimbas kepada terbukanya lapangan pekerjaan di Kepri. Dengan begitu, semua masyarakat Kepri akan mendapat jaminan kesejahteraan.

“Kalau kepri aman, investasi masuk, maka lapangan kerja baru akan terbuka luas dan akan berkurang kriminalitas. Kalau semua bekerja, akan terjadi peningkatan kesejahteraan dan menekan angka kriminalitas,” tutur Soerya.