loading...
Bank Indonesia Mendukung Ekspor Untuk Meningkatkan Nilai Tukar Rupiah | We Give The Real Solutions

Bank Indonesia Mendukung Ekspor Untuk Meningkatkan Nilai Tukar Rupiah

Rapat kerja yang berlangsung pada tanggal 22 Mei 2018 merupakan Rapat kerja terakhir Agus Martowardojo  dengan komisi XI DPR RI. Dalam rapat kerja yang digelar selama kurang lebih 2 jam  telah memberikan banyak pencerahan terkait kondisi Bank Indonesia dalam kurun waktu kepemimpinan Agus.  Pemaparan terkait perbandingan inflasi Negara sekawasan yang menempatkan inflasi Indonesia terhitung Maret 2018 berada pada posisi 3,40 % masih lebih tinggi dari pada Malaysia (1,3 %) Thailand (0,79 %) dan Singapura (0,20 %) Indonesia hanya diungguli oleh philipina yang bertengger pada angka 4,30 %.

Saat ini Bank Indonesia mengatur dan melakukan  pemantau penerbit Teknologi Keuangan sebagai bagian dari pemenuhan tugas dan wewenang BI dalam Moneter, Sistem Pembayaran, dan Makroprudensial menurut Undang-undang BI dan UU OJK.

Beberapa kebijakan Agus untuk memperkuat fungsi utama Bank Indonesia  Pada tahun 2024 adalah meluncurkan kebijakan moneter yang kredibel dan konsisiten, memastikan Kebijakan makroprudensial yang kredibel, proaktif & surveillance yang kuat dan teruji. Serta Kebijakan pengawasan serta penyelenggaraan system pembayaran dan pengelolaan uang yang kredibel dan proaktif.

Menurut Agus Marto Cadangan devisa cenderung meningkat dan mencapai level tertinggi pada Januari 2018, meskipun kembali turun sejalan dengan arus keluar modal asing akibat rencana kenaikan Fed Fund Ratedi AS demikian juga  Transaksi valuta asing antar penduduk cenderung menurun sejak diterapkannya kewajiban penggunaan rupiah antar penduduk yaitu dari 5.090 Juta USD dari Maret 2017 menjadi hanya 1,565 Juta USD pada Februari 2018.

Selanjutnya Menjawab pertanyaan Misbakhun dari partai Golkar terkait bagaimana  membangun bank sentral yang kredible yang disegani secara regional Agus Menjawab bahwa Bank Indonesia perlu memastikan laju inflasi tetap rendah.

“perlu menjaga Inflasi pada level rendah dan stabil, untuk itu  inflasi harus dikontrol, kalau impor lebih tinggi dari ekspor maka rupiah akan melemah karena membutuhkan dollar. Transaksi berjalan tidak boleh devisit,  kita berupaya surplus, tetapi jika transaksi berjalan devisit maka rupiah akan melemah”

Jonny plate dari Partai Nasdem mempertanyakan tantangan yang dihadapi saat ini bahwa Rupiah yang terus melemah dan bagaimana memastikan adanya rasa aman dibidang perbankan kita dengan kondisi rupiah yang terus berubah. Terkait pertanyaan itu Agus menjawab bahwa faktor Rupiah menurun karena transaksi berjalan devisit terus, devisit ini yang cendrung melemah, jika uang masuk ke negara maka tidak akan terjadi pelemahan terhadap Rupiah.

“Untuk meningkatkan Rupiah  kita mesti tingkatkan nilai ekspor dan tidak dalam bentuk barang mentah. Jika kita produksi juga jangan barang mentah, dan jangan terlalu tergantung barang impor”

Lebih jauh Agus Marto juga menyampaikan pentingnya pembangunan SDM. Peningkatan SDM harus dimulai dengan strategi perencanaan SDM dan melakukan rekruitmen sebagai bentuk penyempurnaan kelembagaan Bank Indonesia. Kelembagaan ini penting untuk memastikan supaya reformasi birokrasi berjalan dengan baik.  Selain itu diperlukan inovasi.  Salah satunya adalah menghidupkan pasar modal, kondisi pasar modal saat ini telah berjalan bagus hanya perlu dilakukan penguatan.

“Peningkatan SDM harus menjadi perhatian, ini penting untuk menghasilkan inovasi kebijakan yang mengarah pada peningkatan daya saing Bank Indonesia”

Salah satu akibat pelemahan Rupiah adalah Surat utang Negara lebih diminati daripada surat utang korporasi. Dalam kerangka peningkatan stabilitas Rupiah maka perlu penguatan korporasi agar memiliki stabilitas keuangan yang dapat memberikan kepercayaan pada investor. Dengan kondisi itu Agus Marto mengharapkan adanya Revisi Undang-Undang Bank Indonesia

“Kedepan perlu dipikirkan oleh DPR untuk memberikan penambahan kewenangan Bank Indonesia dalam  penyusunan kebijakan makroprudensial dalam Rancangan Undang-Undang bank Indonesia terutama difokuskan pada kebijakan penguatan rupiah”

Terakhir disebutkan Agus bahwa perdagangan ekspor harus dijaga untuk memastikan pendapatan kita tetap surplus. Jika transaski berjalan devisit maka akan terjadi mata uang Rupiah akan  melemah.

“Solusinya adalah perlu diperkuat dengan ekspor dan mengurangi impor”