Barang Haram Kiriman dari Negeri Tetangga

BATAM — Penyelundupan narkoba dari negeri tetangga, Malaysia ke Indonesia melalui Batam makin mengkhawatirkan. Beberapa kali pengedar atau kurir narkoba ditangkap, namun masih terus terjadi kasus serupa dengan berbagai modus. Di antara kasus tersebut ada yang masih ditangani polisi, kejaksaan, atau sudah dilimpahkan ke pengadilan.

Sabu-sabu ini diselundupkan ke Batam lewat jasa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau penumpang kapal, baik warga Indonesia maupun asing. Upahnya menggiurkan, mulai dari Rp10 juta, tergantung banyak atau sedikitnya barang haram yang dibawa.

Baru-baru ini Sat Narkoba Polresta Barelang berhasil menangkap kurir pembawa 1.075 gram sabu dengan nilai sekira Rp1,5 miliar. Pelaku berinisial Fa (27) ditangkap di Bandara Internasional Hang Nadim Batam menjelang berangkat ke Jakarta. Dari penggeledahan, ditemukan sabu yang disimpan di dalam sepasang sepatu.

“Kami bekerja sama dengan tim airport introduction untuk menangkap pelaku saat mau berangkat ke Jakarta,” ujar Kapolresta Barelang Helmy Santika didampingi Kasat Narkoba Polresta Barelang Kompol Suhardi Hery dalam ekspos di Mapolresta Barelang, Kamis (21/1/2016).

Penangkapan selanjutnya adalah seorang wanita berinisial Jn (26) dan Su (44). Dari kedua pelaku, polisi menemukan tiga paket sabu siap edar seberat 75 gram. Jn ditangkap di kosan di ruko Nagoya Indah dan Su ditangkap di kamar 302 Hotel Lai-Lai.

Pada hari yang sama, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam menjatuhkan hukuman penjara 15 tahun kepada Mustafa Kamal dan Arifin, terdakwa penyelundupan sabu seberat 353 gram dari Malaysia. Kedua TKI di Johor Malaysia ini ditangkap petugas Bea dan Cukai di Pelabuhan Feri Internasional Batam Centre, 5 Agustus 2015, setelah kedapatan membawa sabu dalam empat kemasan kondom yang disembunyikan di dalam anus.

Vonis yang diberikan majelis hakim ini lebih ringan 5 tahun dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Susanto Martua yang menjerat keduanya dengan penjara 20 tahun, karena melanggar Pasal 113 ayat (1) junto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

“Hukuman sudah kami ringankan 5 tahun, JPU menuntut kamu berdua 20 tahun. Itu sudah sangat ringan,” kata Ketua Majelis Hakim, Wahyu Prasetyo Wibowo saat membacakan amar putusan dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Kamalanathan Supramaniam, warga asal Malaysia yang menjadi kurir sabu seberat 95 gram juga menjalani sidang di PN Batam. Ia ditangkap petugas Bea dan Cukai di Pelabuhan Internasional Batam Centre karena membawa sabu yang disimpan dalam tas ranselnya untuk diserahkan kepada Brother (DPO) di Batam dengan upah sebesar 1.500 ringgit Malaysia.

“Dari paspornya sudah lima kali ke Batam, berarti dia sering melakukannya. Terdakwa melanggar Pasal 114, 113, 112, dan 111 undang-undang narkotika, tuntutannya hukuman seumur hidup,” kata JPU Rumondang Manurung.

Rabu (20/1/2016), Sat Narkoba Polresta Barelang memusnahkan barang bukti sabu seberat 747 gram. Barang haram tersebut disita dari empat pelaku yang ditangkap di sejumlah tempat di Batam.

Dari pengungkapan pertama, polisi menangkap pelaku Hb (28) di pintu keberangkatan Bandara Internasional Hang Nadim dengan barang bukti dua paket sabu seberat 229,44 gram, Selasa 29 Desember 2015. Selanjutnya, pelaku berinisial Ss (30) yang ditangkap di Pelabuhan Feri Internasional Batam Centre, Kamis 31 Desember 2015. Warga Aceh ini ditangkap sesaat turun dari kapal oleh petugas Bea dan Cukai karena kedapatan membawa dua paket sabu seberat 210 gram dan 289 gram yang disimpan di dalam kaos kakinya. Kemudian polisi membekuk Mh dan Ir, Selasa (5/1/2016) karena menyimpan tiga paket sabu seberat 92,5 gram.

“Barang haram ini dipasok oleh sejumlah bandar dari negara tetangga Malaysia untuk dipasarkan di Batam dan sejumlah kota lainnya di Indonesia. Keuntungannya miliaran, jika dihitung dengan harga pasar gelap narkoba 1 gram sabu Rp1,5 juta, total barang haram yang dimusnahkan mencapai Rp1,1 miliar,” Ujar Kompol Suhardi Hery.

Narkoba sudah menjadi ancaman serius. Selain merusak generasi bangsa, para pemainnya sulit tersentuh, karena mengendalikan dari negeri tetangga.