Beras impor selundupan

Beras Impor Bertukar Karung

BATAM – Pelaku penyelundupan beras dan gula impor ke Batam benar-benar licin. Setelah sempat diamankan polisi, mereka dengan mudahnya melarikan diri saat kasusnya akan dilimpahkan kepada Bea dan Cukai. Belum diketahui, apakah ada campur tangan aparat terkait hilangnya tersangka penyelundupan itu menjelang pelimpahan.

Penyelundupan beras dan gula impor itu terungkap setelah Direktorat Polisi Air Baharkam Polri menangkap Kapal KLM Jondra Putra GT 148 di perairan Batam, Rabu (27/1/2016) dini hari. Selain menyita 30 ton beras dan 5 ton gula impor, Mabes Polri juga mengamankan 7 orang, yakni Haji Toyib yang diduga selaku pemilik barang, Haji Nurdin diduga selaku pemilik kapal, Ryan Rizal selaku nakhoda, dan 4 Anak Buah Kapal (ABK).

Kasubdit Gakkum Ditpolair Baharkam Polri Kombes Yohannes Widodo mengatakan, penangkapan itu berawal dari adanya laporan masyarakat. Pihaknya kemudian menurunkan dua kapal patroli, KP 3016 Bittern dan KP 3009 Anis Madu beserta 45 personel untuk melakukan penyergapan.

Sempat terjadi saling intip, kucing-kucingan antara kapal patroli dengan kapal penyelundup yang bertolak dari Singapura itu di perairan perbatasan Indonesia dan Singapura selama dua hari. Begitu kapal penyelundup memasuki perairan Indonesia, kapal patroli langsung mengejar dan menangkapnya.

“Nakhoda dan anak buah kapal diamankan tanpa perlawanan. Mereka langsung menyerah saat diamankan,” katanya.

Penyelundup tergolong lihai untuk memuluskan aksinya. Sebab saat menuju Singapura, kapal diisi dengan karung-karung kosong beras merek Indonesia. Setelah mengambil beras dari Singapura, di tengah laut karung ditukar dan seolah-olah merupakan beras dari Indonesia sendiri, bukan lagi beras impor.

Untuk mengelabui petugas, beras dan gula impor itu disembunyikan di bagian lambung kapal. Sementara di atasnya dan bagian luar kapal, diisi dengan perabotan barang bekas, seperti kursi dan lainnya.

Kamis (28/1/2016), pihak kepolisian melimpahkan barang bukti berupa kapal dan muatannya ke Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam, sebab menyangkut pelanggaran Pasal 102 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan. Sementara 7 orang yang sebelumnya diamankan, belum diserahkan.

“Kabarnya pelaku melarikan diri saat akan diserahkan ke BC (Bea dan Cukai). Saya juga bingung, padahal saat penangkapan ada pelakunya,” ujar Kabid Penindakan dan Penyidikan (KP2) Bea dan Cukai Batam Akhiyat Mujayin kepada wartawan, Jumat (29/1/2016).

Setelah menerima pelimpahan barang bukti, BC Batam lalu membawa kapal beserta muatannya ke Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Karimun dengan pengawalan ketat. Sebab jika diproses di Batam, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

“Dalam kasus ini, yang ditetapkan sebagai tersangka adalah nakhoda dan pemilik barang, tapi saat pelimpahan tersangkanya tidak ada. Meski pelakunya tidak diserahkan, kasus ini akan tetap kita proses,” kata Akhiyat.

Ia membeberkan, kasus ini akan melalui beberapa tahapan hingga proses pelelangan barang bukti, meski pelakunya belum dihadirkan. Pasalnya, pelanggaran yang dilakukan adalah menyelundupkan barang secara ilegal dari luar negeri.

Barang-barang yang disita akan menjadi Barang Milik Negara untuk dilelang. Sebelum proses pelelangan, pihak BC akan mengumumkan siapa pemilik barang sebagai syarat administrasi pelelangan.

“Tahapannya masih panjang, tapi jika ada yang mengaku sebagai pemilik barang ini, pasti akan kita tangkap dan dijadikan tersangka,” kata Akhiyat.

Kasubdit Gakum Ditpolair Baharkam Polri, Kombes Yohanes Widodo mengatakan, kasus penyelundupan masih dalam penyelidikan dan kapal beserta barang bukti berupa beras dan gula sudah dibawa ke kantor DJBC Karimun.

“Nanti akan kita cek kembali kapal beserta muatannya, jika sudah sampai di Karimun. Pelaku masih kita lidik,” katanya.

Modus tukar karung dari beras impor ke beras lokal ini pernah diungkapkan Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Perwakilan Daerah Batam, Lukman Sungkar. Sehingga meski ada larangan dari pemerintah untuk mengimpor beras, tetap saja beras-beras impor masih memenuhi pasar-pasar di Batam.

“Mereka mengganti karung beras impor dengan merek-merek lokal,” katanya.

Ada beberapa distributor di Batam. Di antaranya PT Sumber Karya Sejati, PT Srijaya Raya Perkasa, PT Mitra Abadi Kiat Perkasa, UD Setia Kharisma, PT Five Brother, PT Buana Aneka Jaya, PT Prima Surya Sentosa, Namseng, Jaafar, PT Mitra Mandiri Perkasa, PT Buana Aneka Pangan, PT Era Cinta Indonesia, PT Panca Mitra Niata, dan UD Kiat Sukses Permata.

Bukan kali ini saja maraknya penyelundupan beras dan gula impor ke Batam berhasil digagalkan. Meski pemerintah melarang masuknya beras dan gula impor, tak menyurutkan aksi para penyelundup untuk memasukkan kebutuhan pokok itu dari negara luar ke Batam. Bahkan para penyelundup tidak hanya berani melanggar kebijakan pemerintah, tapi juga nekat melawan aparat.

Perlawanan para penyelundup beras dan gula impor ilegal itu terjadi di perairan Batuampar, Batam, Selasa (3/11/2015) malam. Saat itu petugas Bea dan Cukai Tipe B Batam mencurigai kehadiran kapal kayu Wahyu-V milik HP di perairan tersebut. Begitu memasuki perairan Batam, nakhoda langsung mematikan GPS, alat navigasi kapal. Sejumlah petugas diturunkan dengan dua kapal patroli untuk menyisir keberadaan kapal itu.

Melihat kedatangan kapal patroli, Anak Buah Kapal (ABK) bukannya takut. Mereka justru siaga dengan senjata tajam untuk menyongsong kedatangan petugas. Bahkan saat jarak kapal patroli makin rapat, seorang ABK nekat naik ke kapal patroli sambil menenteng parang. Melihat bahaya mengancam, petugas pun langsung mengeluarkan tembakan dan mengenai kaki seorang ABK tersebut.

“Ada lima ABK yang melakukan perlawanan kepada petugas dan melempari kapal patroli dengan botol kaca. Petugas akhirnya menembak kaki seorang ABK saat hendak naik ke kapal patroli,” ungkap Kepala Bea dan Cukai Tipe B Batam Wahyu Nugroho Widodo waktu itu.

Karena suasana makin memanas, lanjut Nugroho, petugas lalu melepaskan kapal, tapi tetap melakukan pengintaian arah tujuan kapal yang ternyata menuju perairan Batuampar, tepatnya Tanjungsengkuang. Nugroho lalu berkoordinasi dengan Kapolda Kepri untuk meminta bantuan anggota polisi.

Tak lama berselang, sejumlah polisi dari Satpolair Polda Kepri dan Satpolair Polresta Barelang datang ke lokasi kapal bersandar. Di lokasi itu juga sudah banyak polisi dari Sabhara, Polsek, dan satuan K9 yang menurunkan seekor anjing polisi. Mereka langsung mengamankan lokasi dan menyita sejumlah senjata tajam, seperti parang dan badik yang disimpan di dalam kapal. Berdasarkan keterangan ABK, kapal berisi 100 ton beras dan 50 ton gula dari Malaysia itu tak memiliki dokumen yang sah.

“Setelah suasana aman, barulah kapal tersebut kami kuasai. Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, kapal langsung kami bawa ke Karimun dengan pengawalan kapal Polisi,” ujarnya.

Tidak kali ini saja penyerangan terhadap petugas Bea dan Cukai terjadi. Pada 23 Mei 2013 petugas patroli Bea dan Cukai Karimun juga mendapatkan perlawanan saat menyergap kapal Wahyu-V. Bahkan sempat terjadi aksi tembak menembak antara petugas Bea Cukai dengan 2 speedboat yang mengawal kapal yang diduga membawa 400 ton gula ilegal dari Malaysia tersebut di perairan Tanjungsengkuang, Batuampar.

Kemudian pada November 2014 kantor Bea dan Cukai Karimun diserang ratusan orang anggota Haji Permata pascapenangkapan kapal pembawa ratusan ton rotan. Kasus itu akhirnya bergulir ke meja hijau. Haji Jumhan alias Haji Permata akhirnya divonis 6 bulan pidana penjara oleh Pengadilan Negeri Karimun.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *