Buffer Zone Harus Bersih dari Kios Liar

BATAM — Puing-puing bekas reruntuhan bangunan berserak di kawasan Simpang Frangky, Batam Centre. Para pedagang sibuk mengemasi barang-barang mereka, disusun di pinggir jalan untuk kemudian diangkut ke tempat lain.

Pagi itu, Jumat (29/4/2016), tim terpadu Pemko Batam membongkar kios-kios liar yang berdiri di kawasan buffer zone Simpang Frangky. Sebagian sudah dibongkar sendiri pemilik kios, selebihnya dibongkar oleh aparat dan alat berat.

“Kios ini kami beli Rp40 juta. Janjinya sampai lima tahun, tak tahunya belum sampai setahun sudah dibongkar,” keluh¬†Salim sambil mengemasi barang-barang dagangannya.

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengapresiasi kesadaran masyarakat dan pemilik kios dalam pembongkaran tersebut. Pembongkaran ini merupakan bagian dari upaya Pemko untuk mengembalikan area penghijauan di seluruh Batam.

“Kami sudah beberapa kali sampaikan bahwa kawasan buffer zone atau pinggir jalan harus bersih dari kios liar,” tegas alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini.

Dalam pembongkaran kios liar di kawasan Simpang Frangky, ada 110 kios liar dibongkar, tanpa ganti rugi. Sekitar 300 personel gabungan dari TNI, Polri, Satpol PP, dan Ditpam BP Batam dikerahkan dalam pembongkaran itu.

Sebelumnya, tim terpadu juga telah membongkar puluhan kios liar di Bundaran Tropicana, Simpang Regata, Batam Centre. Pembongkaran kios-kios liar di kawasan lain menyusul. Seperti kios liar di Center Park Batam Centre, ratusan kios liar depan Rusun Anggrek Kelurahan Duriangkang dan Bukit Kemuning, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Seibeduk, serta lainnya.

Pembangunan kios liar itu dilakukan sejumlah oknum dengan berbekal izin penggunaan sementara lahan buffer zone dari Badan Pengusahaan (BP) Batam. Kios-kios liar itu lalu diperjualbelikan dengan harga mulai dari Rp15 juta sampai Rp40 juta per unitnya. Warga yang membeli kios liar merasa dirugikan, karena kiosnya dibongkar. (eki)




One thought on “Buffer Zone Harus Bersih dari Kios Liar

Comments are closed.