Reka ulang pembunuhan Bos Pertamina

Bunuh Bos Pertamina, Pasangan Kekasih Divonis Seumur Hidup

BATAM – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam menjatuhkan vonis seumur hidup kepada Yufrizaldi bin Samsuardi (23) dan Irma Rahma binti Musa (20), terdakwa pembunuhan Supervisor Pertamina Kabil Edy Juanda, Kamis (10/12/2015). Pasangan kekasih ini terbukti bersalah melakukan tindak pidana, dengan sengaja dan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain secara bersama-sama, sebagaimana diatur dalam Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Masing-masing terdakwa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup,” kata Ketua Majelis Hakim PN Batam Budiman Sitorus didampingi anggota Juli Handayani dan Alfian.

Vonis ini sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Batam, masing-masing pidana seumur hidup. JPU Bani Ginting menilai kedua terdakwa terbukti sengaja dan secara bersama-sama melanggar tindak pidana pembunuhan.

“Terdakwa dengan sengaja dan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain secara bersama sama,” ujarnya.

Pembunuhan itu terjadi pada 2 Mei 2015 lalu. Saat itu sekira pukul 21.30, Yufrizaldi bersama Irma keluar dari kamar kosnya di pertokoan Jodoh Square menuju Hotel Pasific Jodoh. Keduanya duduk di dekat pos sekuriti hotel tersebut.

Tak lama berselang, Irma lalu berjalan berkeliling di sekitar hotel untuk mencari tamu yang akan masuk perangkapnya. Sedangkan Rizal mengikuti dari belakang dan memantau dari jarak 30 meter untuk memastikan pacarnya sudah mendapatkan tamu. Yufrizaldi sengaja menjadikan Irma sebagai umpan untuk menjebak pria hidung belang di tempat hiburan malam tersebut yang ingin berkencan.

Ketika Irma berada di depan Hotel Pacific, korban yang mengendarai mobil Toyota Avanza datang menghampiri dan mengajak perempuan itu naik ke mobil. Sebelum melanjutkan perjalanan, Edy Juanda sempat berhenti di sebuah warung depan Pacific untuk membeli minuman. Setelah itu, keduanya menuju Hotel Baloi Garden dan masuk ke kamar 201.

Melihat kekasihnya pergi bersama korban, perlahan Rizal mulai membuntuti mobil korban dengan naik ojek. Selama berada di kamar, Irma terus berkomunikasi dengan Yufrizaldi lewat pesan singkat (SMS) untuk mengabarkan keberadaannya. Ketika korban mengajak Irma naik ke tempat tidur, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara pintu rolling door terbuka.

Mengetahui hal itu, Irma menginformasikan kepada korban bahwa orang yang membuka pintu tersebut adalah petugas yang hendak merazia hotel. Lantaran panik, Edy buru-buru memasukkan pakaian dan hartanya ke kantong plastik dan bersembunyi di kamar mandi.

Tanpa banyak tanya, Yufrizaldi langsung menghampiri Edy di kamar mandi dan meminta korban menyerahkan semua hartanya sambil mengancam dengan pisau. Mendengar ancaman itu, korban menantang.

Yufrizaldi lalu menghujamkan pisaunya ke leher kiri korban. Merasa nyawanya terancam, korban berusaha melawan. Perkelahian pun terjadi hingga ke kamar hotel, tepatnya di depan televisi. Bahkan korban sempat menggigit tangan pelaku yang memegang pisau dan berusaha keluar dari kamar hotel.

Namun nahas, upaya korban berusaha lari digagalkan pelaku. Kondisi korban yang sudah banyak mengeluarkan darah malam itu juga semakin lemah. Takut aksinya ketahuan, Yusrizaldi membekap mulut dan mencekik leher korban hingga meregang nyawa.

Setelah kejadian itu, Irma menyalakan lampu dan bersama pelaku membersihkan darah korban menggunakan handuk hotel. Dia juga mengambil harta korban yang ada di kantong plastik. Usai membunuh, Yufrizaldi sempat menghisap sebatang rokok di dekat sofa.

Mayat korban kemudian dibungkus menggunakan handuk hotel dan dimasukkan ke dalam mobil milik korban. Sesaat setelah pintu rolling door hotel dibuka oleh sekuriti hotel bernama Muhammad Asri, Yufrizaldi bergegas meninggalkan hotel tersebut.

Setelah sempat ke arah Tiban, Sekupang, dan Batuaji, pelaku akhirnya mengarahkan mobil ke daerah Rempang Cate, Barelang untuk membuang mayat korban di sana. Irma bertugas membuang plastik yang berisi pisau dan pakaian korban ke bawah Jembatan Tiga Barelang. Sedangkan mobil korban, uang tunai Rp1 juta, ponsel merek Lenovo, Nokia, jam tangan, dan dua cincin batu akik milik korban dibawa kedua pelaku.

Sehabis membuang jasad korban, kami kembali ke kosan setelah sebelumnya menenangkan diri di pertokoan Regata dan Pantai Golden Prawn. Yufrizaldi dan Irma akhirnya ditangkap tim buser Polresta Barelang di kos-kosannya di ruko Jodoh Maritim Square, Kamis (7/5). Polisi terpaksa melumpuhkan kaki kiri Yusrizaldi dengan timah panas, karena sempat melawan saat hendak ditangkap. Selain menangkap kedua pelaku, polisi juga mengamankan mobil Toyota Avanza hitam milik korban. Plat nomor polisi mobil itu sebelumnya BP 1369 EI, lalu diganti pelaku menjadi BP 1223 RI.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *