Diburu, Rompak Kapal Singapura

BATAM – Sejumlah pihak ikut memburu wanitia berinisial EN (40) otak perompakan kapal berbendera Singapura, MT Joaquim. Selain Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar), Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Batam juga ikut melacak jejak para perompak.

Terungkapnya perompakan ini berawal dari penemuan kapal MT Kharisma-9 serta penangkapan tiga pelaku perompak MT Joaquim. Apalagi dari pengakuan kedua tersangka, setelah melakukan shiponing, MT Kharisma sempat berlayar menuju perairan Batam dan menurunkan tujuh perompak di Pulau Karimun Besar, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.

“Kami terus berkoordinasi dengan Koarmabar untuk mencari perompak yang masih buron,” ujar Danlanal Batam Kolonel laut (P) R Eko Suyatno, Kamis (24/12/2015).

Perompakan itu terjadi pada 8 Agustus 2015 sekira pukul 20.00 saat MT Joaquim tengah berlayar dari East Outer Port Limit (EOPL) di perairan Selat Malaka menuju Melaka. Kapal bermuatan 3.500 MT Light Crude Oil (LCO) dengan delapan anak buah kapal (ABK) itu dirompak sekelompok orang tak dikenal menggunakan MT Kharisma-9. Perompak diperkirakan berjumlah 19 orang itu berhasil mengambil LCO sebanyak 2.900 MT (shiponing) di perairan sebelah utara Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Pemindahan isi muatan minyak berlangsung cukup lama hingga sekitar pukul 06.30 pada Minggu (9/8/2015) pagi. Setelah pemindahan selesai, seluruh ABK diikat dan dimasukkan ke dalam satu ruangan kontrol. Para ABK tidak mengetahui keberadaan mereka karena para perompak mengecat kaca jendela ruangan itu dengan warna hitam dan merusak mesin hidrolik serta jangkar agar kapal tersebut tidak bisa berlayar mengikuti MT Kharisma-9.

Pada 14 Desember lalu, Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) didukung Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) berhasil menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam kasus perompakan MT Joaquim, yakni AG (43) teknisi kapal, HU (53) kapten kapal, serta AS (30) Mualim I MT Kharisma 9 di Bandung, Jawa Barat.

Selama persembunyian, 11 ABK MT Kharisma-9 sempat tinggal di Kota Bandung dan kemudian mereka berpencar mencari tempat persembunyian masing-masing. Namun, beberapa tersangka tetap tinggal di Kota Bandung selama tiga bulan. Dari hasil penyelidikan, ternyata MT Kharisma 9 telah dua kali berganti nama menjadi MT Antela serta MT Union Star.

Hal tersebut diketahui setelah Tim WFQR Koarmabar berhasil menemukan MT Kharisma-9 yang sedang lego jangkar di perairan Bojonegara, Banten. Saat ditemukan, kapal sudah berganti nama menjadi Union Star, cat lambung kapal terindikasi dicat ulang menjadi warna abu-abu dengan warna dasar hitam, mesin kapal dalam keadaan mati, tidak ada ABK.

Petugas juga menemukan life jacket bertuliskan Antela, berkas fresh water sounding oleh PT Victor Stell Indonesia atas nama MT Kharisma-9, bekas shipboard marine pollution emergency plan atas nama MT Kharisma-9 serta sisa LCO sebanyak 700 KL. Hasil investigasi terhadap pelaku-pelaku yang tertangkap mengaku semua aksi atas perintah EN dibantu BU alias AN yang sampai kini masih dalam daftar pencarian orang (DPO).

Ada kapal-kapal yang ikut membantu aksi kejahatan ini antara lain, MT Patriajaya-1 yang mengambil LCO sebanyak 1100 KL, kemudian MT Hartadika yang juga mengambil LCO sebanyak 1100 KL pada tanggal 3 September 2015 dan MT Matahari Laut memberikan dukungan logistik kepada ABK MT Kharisma. Saat ini semua kapal tanker tersebut sudah berhasil ditangkap.

Menurut Eko, pencarian tak hanya dilakukan di laut saja, tapi juga di darat didukung Tim WFQR. “Kami memang belum mengetahui keberadaan perompak itu, apakah di sini (Batam) atau di daerah lain, karena sebelumnya Koarmabar menangkap mereka di Bandung,” ungkapnya.

TNI AL sempat menangkap WNI Jefry, tersangka pemilik kapal MT Mascot II yang diamankan dari Laut Natuna karena diduga merompak MT Joaquim. Jefry ditangkap tim WFQR IV pada Kamis (27/8/2015) sekitar pukul 18.10 di Nagoya, Batam.

Kapal Mascot II ditangkap oleh prajurit TNI AL yang sedang berpatroli dengan KRI Silas Papare-386 di Laut Natuna, Selasa (11/8/2015). Kapal tersebut berlayar dari Vietnam ke Out Port Limit (OPL) tanpa dilengkapi dokumen yang sah. Ada 9 WNI yang berada di dalam kapal tersebut. Jajaran TNI AL menemukan muatan di Kapal Mascot II sebanyak 253 ton BBM ilegal dan diduga diambil dari MT Joaquim.