Direktur RSUD Batam Ditahan Bareskrim

BATAM — Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri akhirnya menahan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam, drg Fadillah RD Malarangan yang menjadi tersangka sejak Mei 2015 silam dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) tahun anggaran 2011. Pejabat Pemko Batam itu ditahan Mabes Polri sejak Kamis (14/1/2016).

“Sudah resmi ditahan sejak Kamis (kemarin),” kata Kepala Bareskrim Polri Komjen Anang Iskandar, Jumat (15/1/2016).

Beberapa waktu belakangan, Fadillah sudah jarang tampil ke publik. Salah satu kegiatan yang dihadirinya adalah saat pelantikan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila (PP) Batuampar di bawah kepemimpinan Dani Ogan yang berlangsung di Harbourbay, Jodoh, Sabtu (19/12/2015) malam. Ketua Srikandi PP Provinsi Kepri itu sempat didaulat untuk menyampaikan kata sambutan.

Fadillah terbelit kasus pengadaan alat kesehatan, kebidanan, dan kedokteran di RSUD Batam yang didanai APBN 2011. Awalnya tim Bareskrim menduga kerugian negara mencapai Rp18 miliar. Namun setelah diperiksa Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kerugian negara menyusut sekira Rp5.604.815.696. Sebagai barang bukti, Bareskrim juga menyita uang tunai sebesar Rp194 juta.

Anang menjelaskan, Fadillah sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA) juga merangkap sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam kasus ini. Sebagai PPK ia hanya mengikuti tawaran harga dari distributor, tanpa mengecek harga pasaran peralatan yang akan dilelang. Panitia pengadaan kemudian menetapkan tiga perusahaan telah memenuhi syarat, yakni PT Masmo Masjaya sebagai pemenang lelang, serta PT Sangga Cipta Perwita, dan PT Trigels Indonesia sebagai pendamping pemenang lelang.

“Perbuatan Fadillah yang tidak pernah mengecek harga pasar yang berlaku untuk peralatan kesehatan jelas menyalahi aturan. Karena hal itu tidak sesuai dengan pasal 66 ayat 7 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah,” kata Anang.

Fadillah disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selain Fadillah, tersangka lain dalam kasus itu adalah Fransisca Ida Sofia Prayitno yang kini buron dan Ali Arno Daulay (almarhum). Otomatis baru Fadillah yang sudah ditahan.

Fadillah sendiri tak bisa dikonfirmasi terkait penahanannya tersebut. Saat ditelepon, nomornya tidak aktif.

Sementara Humas RSUD Embung Fatimah Batam Nuraini mengaku belum tahu terkait penahanan Fadillah oleh Bareskrim Polri. “Saya belum dapat kabar mengenai Ibu Direktur tersebut. Tapi, beberapa hari ini ibu tak pernah masuk lagi,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.