DJ Sweet Rochana Pringprasit

DJ Sweet Thailand Divonis Penjara 2 Bulan 15 Hari

TANJUNGPINANG — Setelah menjalani sidang bertele-tele, Disc Jockey (DJ) cantik asal Thailand, Rochana Pringprasit (28) akhirnya divonis penjara 2 bulan 15 hari oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (1/2/2016). DJ Sweet Emily, begitu sebutannya, juga harus membayar denda Rp10 juta subsider 2 bulan kurungan.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama dua bulan dan 15 hari, dipotong masa tahanan,” ujar Ketua Majelis Hakim Eryusman saat memimpin sidang.

Majelis hakim menilai DJ Sweet Emily terbukti menyalahgunakan izin tinggal bebas visa kunjungan singkat (BVKS) untuk bekerja sebagai DJ di F-Lounge Pub and KTV Hotel Aston Tanjungpinang. Penyalahgunaan ini melanggar Pasal 122 huruf (a) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), penjara 5 bulan dan denda Rp10 juta subsider 2 bulan penjara. Melalui penerjemah, DJ Sweet Emily menyatakan mengerti dan menerima atas vonis tersebut.

Selama menjalani persidangan, DJ Sweet Emily sempat mengeluhkan rumitnya proses hukum yang ditimpakan kepadanya. Menurutnya, kasus itu terjadi bukan karena kesalahannya, tapi kelalaian agency atau pihak pengundang serta penyelenggara event tempatnya tampil. Seorang anggota keluarganya yang datang langsung dari Thailand mengungkapkan kebingungan DJ Sweet Emily atas kasus yang menimpanya.

DJ Sweet Emily ditangkap petugas Imigrasi Tanjungpinang saat tampil sebagai DJ di F-Lounge Pub and KTV Hotel Aston Tanjungpinang pada Minggu, 27 September 2015. Tawaran mengisi hiburan malam di Pub itu ia terima saat berada di Indonesia, mengunjungi pacarnya, Evan. Ia masuk Indonesia melalui Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur pada 13 September 2015.

Tawaran manggung sebagai DJ sudah sering diterima lulusan Bangkok DJ School ini sebelumnya dan tak pernah ada masalah. Ia pernah tampil di Malang, Surabaya, dan sejumlah kota lain di Jawa Timur. Terkait administrasi dan perizinan, pihak agency dan penyelenggara yang mengurus, namanya Jansen. Dalam sidang terungkap pihak agency dan penyelenggara tidak bertanggung jawab dan Jansen menghilang. Begitupun honornya sebagai DJ sebesar Rp5 juta, baru diterimanya Rp2,8 juta, meski Pengelola Pub Aston mengaku sudah membayar penuh melalui agency.

Ia sempat menjalani tahanan kota, dan tinggal di Tanjungpinang dengan menyewa sebuah kamar kos di depan Ramayana. Baru pada 28 Desember 2015, ia ditahan di Rutan Tanjungpinang, satu sel bersama 14 narapidana lainnya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *