Dialog HMI Batam

HMI Batam Waspadai Bahaya Laten Komunis

BATAM – Wakil Rektor Universitas Putera Batam Gita Indrawan menilai gerakan komunis di Indonesia hari ini telah mengalami transformasi perjuangan. Pergeseran itu adalah dari perjuangan kontak fisik dan senjata menjadi perjuangan ide, gagasan, opini, dan perang pemikiran.

“Inilah bahaya laten yang sesungguhnya,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam dialog keagamaan bertemakan “Peningkatan Peran Pondok Pesantren dalam Meredam Paham Radikal” di Pelataran Masjid Nurul Islam Muka Kuning, Batam, Minggu, 22 Mei 2016.

Menurut Gita, antara komunis dan Pancasila tidak dapat hidup berdampingan. Dimana bangsa Indonesia sangat mengakui adanya Tuhan sesuai sila pertama Pancasila yang menjadi ideologi negara dan pandangan hidup bangsa.

“Komunisme tidak sesuai dengan kepribadian dan pandangan hidup bangsa Indonesia,” katanya.

Dialog keagamaan itu diselenggarakan Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Batam bersama Remaja Masjid Kawasan Industrial Batamindo (RMKIB) untuk menolak segala bentuk radikalisme atas nama agama serta paham komunisme. Selain Gita Indrawan, penyelenggara juga menghadirkan narasumber Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Batam Luqman Rifai, Perwakilan Kementerian Agama Batam Khairudin, dan Kasat Intelkam Polresta Barelang Kompol Irham Halid.

Direktur LDMI HMI Cabang Batam Muhammad Andriansyah mengatakan, dialog disejalankan dengan peringatan Isra Miraj serta menyambut Ramadan bertujuan memfilter paham radikal, terutama yang ada di Batam.

“Pesantren semakin termarjinalkan dengan isu-isu terorisme. Padahal, peran pesantren sebagai founding father kemerdekaan bangsa Indonesia tidak bisa dipungkiri. Kiyai dan santri pondok pesantren memiliki andil langsung dalam pembentukan negara Indonesia,” kata Andriansyah.

Menurutnya, pendiri pesantren terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, isu yang mendiskreditkan pesantren sebagai sarang terorisme adalah salah besar.

“Pemerintah sebaiknya lebih memberdayakan pesantren, terutama dalam peningkatan sumber daya manusia serta pembenahan infrastruktur. Hal ini dibutuhkan agar pesantren dapat berkiprah lebih baik dalam mencetak generasi yang berwawasan global serta kebangsaan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Luqman Rifai. Menurutnya, peran pesantren sebagai benteng penjaga ideologi bangsa bukanlah sesuatu yang berlebihan. Pesantren dalam perkembangannya telah mampu menjawab tantangan globalisasi. Namun, ia menyebut bahwa ada beberapa hal yang perlu dibenahi dalam pesantren.

“Perlu dilakukan pembinaan dan pengkaderan santri berwawasan kebangsaan. Hal ini perlu ditunjang dengan pembenahan kurikulum dan silabus pesantren. Selain itu, pesantren perlu dilibatkan secara intensif dalam program-progam terkait pembangunan bangsa, ” katanya.

Selain itu, Luqman juga mengharapkan adanya pola hubungan yang sinergis antara ormas dan lembaga dakwah Islam di Batam. Sinergitas tersebut akan menguatkan dalam rangka menangkal segala bentuk radikalisme serta paham komunisme.

Sementara Kompol Irham Halid mengungkapkan temuan kepolisian terkait atribut kaos berbau komunisme di Batam. Kaos berlambang palu arit itu ditemukan pada 30 April sampai 16 Mei 2016.

“Sudah ada 7 temuan. Di antaranya di Pelabuhan Batam Center, Kampung Baru RT 02 RW 04 Kelurahan Tanjungriau, serta di Pasar Seken Bengkong Laut, ” katanya. (wan)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *