Ilegal Fishing, Kapal Malaysia Ditangkap

BATAM — Kapal Pengawas Perikanan di bawah kendali Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap tujuh kapal ikan asing berbendera Malaysia. Kapal-kapal itu ditangkap saat mencuri ikan di perairan Indonesia, Rabu (10/2/2016) sekira pukul 06.00. Selain kapal, petugas juga mengamankan sembilan unit alat tangkap (trawl), tujuh unit alat navigasi (GPS), tujuh unit kompas, 16 unit alat komunikasi radio, dan sekitar 10 ton ikan campur hasil curian.

Kapten Kapal Pengawas (KP) Hiu 13 Irzal Kadir mengaku sering memergoki kapal-kapal berbendera Malaysia melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia. Sewaktu menangkap tujuh kapal berbendera Malaysia di Selat Malaka, ditemukan puluhan kapal lain mencuri ikan di perairan sekitar. Namun karena keterbatasan jumlah armada dan petugas, pihaknya hanya bisa menangkap tujuh kapal. Sementara kapal-kapal lainnya berhasil kabur menuju perairan Malaysia.

Bukan tanpa risiko menghadapi para pelaku ilegal fishing asing yang makin merajalela di wilayah perbatasan Indonesia. Bahkan saat akan ditangkap, mereka tak segan-segan menabrakkan kapalnya ke kapal petugas atau memotong jaring untuk menghambat gerak kapal petugas.

“Mereka sengaja memotong jaring agar membelit kapal pengawas, lalu kabur masuk ke perairan internasional,” katanya, Minggu (14/2/2016).

Kepala PSDKP Batam Akhmadon mengatakan, saat ini ketujuh kapal diamankan di PSDKP Batam di Jalan Trans Barelang, Jembatan II Barelang. Ketujuh kapal itu adalah KM SLFA 2915 (83 GT), KM PKFB 376 (63 GT), KM KHF 451 (62 GT), KM PSF 2461 (53 GT), KM PPF 164 (91 GT), KM PPF 593 (48 GT), dan KM PKFA 8482 (48 GT).

“Penangkapan ketujuh kapal Malaysia itu dilakukan oleh KP Hiu 012, 013, 014, dan 015 yang sedang menggelar operasi pengawas di wilayah perairan Selat Malaka. Kapal yang diamankan dibawa ke Satker PSDKP Batam pada 12 Februari ntuk dilakukan proses hukum oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan,” ujarnya.

Menurut Akhmadon, kapal ditangkap saat mencuri ikan menggunakan alat terlarang dan tanpa dokumen yang sah. Mereka diduga melanggar Pasal 92 junto Pasal 26 ayat (1), Pasal 93 ayat (2), Pasal 27 ayat (2), Pasal 85 junto Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Ancamannya pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp20 miliar.

“Tidak ada keringanan hukum bagi pencuri ikan di perairan Indonesia. Tidak memilah, walaupun WNI ancamannya di atas lima tahun,” katanya.

Untuk mengelabui petugas, kapal berbendera Malaysia itu beroperasi di perairan Indonesia dengan mempekerjakan 36 anak buah kapal (ABK) dan nakhoda berkewarganegaraan Indonesia. Mereka tergiur gaji tinggi untuk melakukan pencurian ikan, sebanyak 100 ringgit perhari untuk nakhoda dan 35 ringgi perhari untuk ABK.