Jaksa Banding Vonis Kurir Sabu 1,55 Kg

BATAM — Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Batam akan mengajukan banding atas vonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam kepada Chiew Han Lun alias Alun alias Alex. Majelis hakim menjatuhkan vonis 20 tahun penjara dari tuntutan hukuman seumur hidup kepada warga Malaysia yang menjadi kurir ganja 1,55 kilogram itu. Selain itu, Majelis Hakim yang dipimpin Sarah Louis Simanjuntak didampingi hakim Syahrial Harahap dan Tiwik ini juga menjatuhkan denda Rp2 miliar subsider kurungan 3 bulan.

“Paling lambat Senin (hari ini) akan diajukan (banding) ke PT (Pengadilan Tinggi) melalui PN Batam,” ujar JPU Wawan Setyawan, kemarin.

Wawan mengatakan, dalam persidangan majelis hakim berkeyakinan bahwa Alex melanggar pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Padahal sesuai fakta persidangan, JPU yakin terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 112 ayat (2) undang-undang yang sama. Apalagi paspor terdakwa banyak stempel Imigrasi dari beberapa negara, termasuk Indonesia, yang mengindikasikan terdakwa sebagai sindikat internasional.

“Barang bukti sabu seberat 1,55 kilogram itu sangat banyak. Itu seharusnya hukuman penjara seumur hidup,” ujarnya.

Alex ditangkap oleh petugas Bea dan Cukai di pelabuhan ferry Batam Center karena kedapatan membawa sabu seberat 1,55 kilogram yang dibungkus dalam kemasan makanan ringan saat melewati pemeriksaan mesin X-Ray. Pengakuannya, sabu tersebut akan dibawa lagi ke Jakarta untuk diserahkan kepada pembeli atas perintah Andi yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kepala Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Kepri Benny Setiawan berharap para terdakwa narkoba dalam jumlah besar agar dihukum maksimal. Tujuannya untuk menimbulkan efek jera dan mendukung program pemerintah dalam memberantas peredaran narkoba.

“Pengedar harus dihukum berat agar masyarakat terbebas dari narkoba,” katanya kepada wartawan, Minggu (22/11/2015).

Tidak hanya kali ini Majelis Hakim PN Batam dianggap memberikan vonis ringan terhadap terdakwa kasus narkoba. Pada minggu awal Februari 2015, Majelis Hakim PN Batam menjatuhkan vonis 20 tahun penjara dan denda Rp2 miliar kepada Albet alias Asiong alias Apua karena terbukti bersalah membawa narkotika jenis sabu golongan 1 seberat 20 kilogram.

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Cahyono dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andi Akbar. Baik Albet maupun Jaksa meminta waktu untuk berpikir apakah akan mengajukan banding atau tidak terkait vonis tersebut.

“Kami meminta waktu seminggu ini,” kata Albet yang diamini kuasa hukumnya, Tantimin.

Sebelumnya oleh JPU, Albet dituntut hukuman seumur hidup. Sidang putusan terhadap Albet sempat tertunda hingga dua kali. Awalnya sidang putusan dijadwalkan Selasa (27/1/2015), namun batal dan dijadwalkan kembali seminggu kemudian. Namun dalam jadwal pada Selasa (3/2/2015), sidang putusan kembali ditunda.

Majelis Hakim PN Batam Cahyono saat dikonfirmasi beralasan, penundaan dilakukan karena majelis hakim tidak lengkap. Pada hari pembacaan putusan, salah satu hakim anggota sedang bertugas dalam sidang tindak pidana korupsi (tipikor) di Tanjungpinang.

“Salah satu hakim anggota sidang tipikor di Tanjungpinang, Bu Nenny (Nenny Yulianny). Besok (hari ini) putusan, kalau (hakim) sudah lengkap,” jawabnya.

Albet ditangkap Kepolisian Kawasan Pelabuhan (KKP) saat membawa narkotika jenis sabu golongan 1 seberat 20 kilogram di Pelabuhan Beton Sekupang pada Jumat 8 Agustus 2014. Penangkapan berawal saat Albet hendak menuju Jakarta dengan menumpang KM Kelud.

Berbeda dengan penumpang biasanya, Albet masuk melalui lorong kedatangan penumpang, bukan dari pintu keberangkatan. Saat itu Albet ditemani Mui Hui alias Andi (DPO), Lina (istri Mui Hui), dan Aulia.

Sabu seberat 20 kilogram itu disimpan dalam dua tas berbeda, tas ransel merk Yie Hei dan tas merk Polo England. Di tas ransel merk Yie Hei warna coklat disimpan 10 bungkus sabu yang dikemas plastik silver seberat 10.167 gram. Sabu itu dibungkus plastik warna silver.

Sedangkan di tas merk Polo England warna coklat disimpan 10 bungkus sabu yang dikemas dalam plastik warna silver dan satu kotak berisi empat sabu dalam plastik bening yang beratnya 10.159 gram. Total berat sabu yang mengandung metamfetamina ini adalah 20.909 gram.

Melihat penumpang berangkat melalui pintu kedatangan, Petugas KKP pun menghentikannya. Saat ditangkap, mereka sempat menawarkan suap Rp10 juta kepada petugas, tapi ditolak.

Setelah diperiksa, ditemukan bungkusan sabu-sabu tersebut dari dalam tas. Albet, Lina, dan Aulia langsung digelandang ke Kantor KKP, sedangkan Mui Hui berhasil melarikan diri.

Pengakuan Albet, sabu itu didapatkan dari seorang warga negara Malaysia yang tidak ia ketahui namanya. Sabu diambilnya bersama Mui Hui di perbatasan Indonesia Malaysia (Out Port Limit-OPL) melalui pelabuhan tikus Tanjungsengkuang, Batuampar. Saat diambil, sabu ditempatkan di tiga paralon yang kedua sisinya ditutup dengan plastik.

Albet mengaku diupah Rp50 juta oleh Mui Hui untuk membawa sabu tersebut ke Jakarta. Dari upah yang dijanjikan, ia sudah mendapatkan DP Rp15 juta.