Jangan Ada Permainan yang Memicu Naiknya Harga Barang

BATAM — Semangat muslim untuk beribadah khusyuk selama Ramadan tahun ini kembali terganggu dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Kenaikan harga tersebut semakin membebani, di saat kebutuhan terhadap sejumlah barang meningkat.

“Kenaikan beras beberapa waktu lalu, sampai sekarang gagal diturunkan. Sekarang naik lagi harga daging sapi, dari sebelumnya Rp105 ribu menjadi Rp140 ribu sampai Rp150 ribu per kilogram. Beberapa bahan pokok lain juga ikut naik, membuat beban hidup makin bertambah,” keluh Lestari, warga Legenda Malaka, Batam Centre, Rabu, 8 Juni 2016.

Lestari heran, setiap momen Ramadan dan Lebaran serta hari-hari besar keagamaan di Indonesia, selalu diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Sementara di negara lain seperti Malaysia, Brunei Darussalam yang mayoritas penduduknya juga muslim, tak ada gejolak harga pangan.

“Di beberapa negara lain, pelaku usaha justru pasang diskon besar-besaran setiap menjelang Natal,” katanya.

Lestari berharap pemerintah daerah turun tangan untuk mengatasi gejolak pangan ini. Sebab persoalan pangan adalah masalah krusial dan berdampak luas terhadap daya beli serta kesejahteraan masyarakat.

“Jangan sampai ini menjadi lahan pencitraan baru bagi pihak-pihak tertentu untuk berbuat seolah-olah demi kepentingan masyarakat. Sementara tidak ada progres dan upaya yang benar-benar dilakukan untuk menekan kenaikan harga bahan pangan ini,” katanya.

Kepala Bulog Batam Jamaludin mengaku belum ada pembahasan dengan Pemko Batam atau Dinas Perindustrian, Perdagangan (Disperindag) dan ESDM Kota Batam terkait melambungnya harga daging di pasaran. Sehingga sampai saat ini belum ada langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi melonjaknya harga daging tersebut.

“Belum ada pertemuan dengan Disperindag untuk mencari solusi atas naiknya harga daging sapi. Kalau beras tidak ada masalah, stok cukup,” katanya.

Ketua Komisi II DPRD Batam Yudi Kurnain meminta pemerintah melakukan tindakan untuk menurunkan harga bahan pokok. Menurutnya, pihaknya sudah rapat terbuka tiga bulan sebelumnya dan merekomendasikan Pemko Batam untuk kreatif mengatasi gejolak pangan.

“Harga daging di Singapura dan Malaysia bisa Rp60.000 per kilogram, mengapa harga daging kita lebih dari Rp120 ribu,” tanyanya. (wan)