4 WNI Sandera Abu Sayyaf tiba di Lanud Halim Perdanakusuma

Kerja Sama Trilateral Ikut Berperan Bebaskan Sandera

JAKARTA — Empat warga negara Indonesia (WNI) awak kapal tunda Henry yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina sejak 15 April lalu tiba di Jakarta, Jumat, 13 Mei 2016. Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi menyambut kedatangan mereka di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pukul 10.24. Menlu didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

“Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk TNI yang telah memberikan kerja sama yang luar biasa dalam pembebasan WNI tersebut,” ujarnya.

Keempat sandera itu adalah Moch Ariyanto Misnan (22) selaku nakhoda (Bekasi Timur-Jawa Barat), Loren Marinus Petrus Rumawi (27) selaku chief officer (Sorong-Papua Barat), Dede Irfan Hilmy (25) selaku second officer (Ciamis-Jawa Barat), dan Samsir (35) selaku anak buah kapal (Kota Palopo-Sulawesi Selatan). Tentara Filipina menyerahkan mereka kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut, Kamis, 12 Mei pagi.

Prosesi ini berlangsung di atas perairan dari RV Kapal Angkatan Laut Filipina ke KRI Surabaya milik TNI Angkatan Laut.

Selanjutnya, KRI Surabaya berlayar menuju Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Di tengah perjalanan, keempat pelaut kemudian diterbangkan dengan helikopter yang dimiliki KRI Surabaya ke Pangkalan Udara TNI AU Tarakan. Dari Tarakan, mereka diterbangkan ke Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta dengan pesawat Boeing 737 bernomor ekor AI 7301.

Keempat WNI itu dibebaskan setelah pemerintah Indonesia, Filipina, dan Malaysia membangun kerja sama trilateral mengamankan wilayah perairan yang rawan pembajakan oleh kelompok Abu Sayyaf. Perairan di sekitar Kepulauan Sulu dan Mindanao tersebut termasuk jalur sibuk.

Mereka akan diserahkan kepada keluarganya, setelah menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi tekanan selama penyanderaan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir enggan membeberkan detail operasi pembebasan empat WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Ia beralasan, detail operasi tidak dapat dipublikasikan karena menyangkut keselamatan banyak pihak di Indonesia dan Filipina yang terlibat dalam proses pembebasan.

Menurut dia, kondisi di Filipina Selatan sangat kompleks dan pelik. Pemerintah Indonesia tidak ingin membahayakan keselamatan orang-orang yang telah membantu pembebasan.

“Yang terpenting adalah 14 WNI yang disandera telah dibebaskan dan selamat,” katanya.

Armanatha juga menyangkal bahwa Pemerintah Indonesia membayar permintaan uang tebusan dari kelompok Abu Sayyaf sebagai syarat untuk pembebasan para WNI. Selain kerja keras banyak pihak, lanjut Arrmanatha, pertemuan trilateral yang digelar di Yogyakarta, Kamis 5 Mei 2016, juga turut berpengaruh terhadap keberhasilan pembebasan sandera WNI itu.

Pertemuan trilateral antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina itu untuk memastikan perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan. Hal ini tidak saja berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan ekonomi ketiga negara, namun juga bagi ASEAN.

Pertemuan trilateral dilaksanakan di Gedung Agung Yogyakarta, dipimpin Menlu RI dan Panglima TNI. Hadir dalam pertemuan itu Menlu Anifah dan Jenderal Zulkifeli dari Malaysia, serta Menlu Almendras dan Laksamana Muda Caesar C. Taccad dari Filipina.

Diskusi mengenai tantangan keamanan peraran yang dihadapi ketiga negara menjadi perhatian utama dalam pertemuan. Pertemuan menyepakati bahwa ancaman perompakan di laut, penyanderaan, dan kejahatan lintas batas lainnya bila tidak segera diatasi dapat menurunkan tingkat kepercayaan perdagangan, perniagaan, dan kepercayaan terhadap kawasan secara umum. (eki)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *