Kurir Narkoba di Antara Para TKI

BATAM — Banyak modus dilakukan kurir untuk mengelebui petugas dan memasukkan narkoba ke Kota Batam, Provinsi Kepri. Salah satunya dengan membaur di antara rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pulang ke Indonesia melalui Batam lewat pelabuhan tikus atau pelabuhan tidak resmi. Hal ini terungkap dalam ekpos penangkapan dua kurir narkoba di Mapolda Kepri, Rabu (2/12/2015).

Kedua kurir narkoba itu adalah HT alias R dan TJD alias J. Keduanya ditangkap jajaran Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kepri di Kampung Tua Pantai Nongsa, Batam pada Sabtu (28/11/2015) pukul 00.10 dini hari. Saat diperiksa, ditemukan narkoba jenis sabu sebanyak 4,25 kilogram senilai Rp6 miliar.

“Mereka masuk bersama TKI yang pulang ke Indonesia melalui Batam,” ungkap Diresnarkoba Polda Kepri, Kombes Pol Wiyarso.

Wiyarso menjelaskan, sebelum menangkap kedua kurir narkoba itu, pihaknya telah melakukan pengintaian beberapa malam dan menghimpun keterangan di sekitar lokasi. Setelah diamankan, polisi mendapati keduanya membawa narkotika golongan I jenis sabu dalam jumlah banyak.

Sabu itu disita dari dua bungkus plastik bening berisi serbuk kristal. Masing-masing beratnya 3.300 gram dan 950 gram.

Polisi juga menyita sebuah tas warna biru merek Poly-pac, satu unit handphone Samsung jenis SM-G900 warna hitam, dan sebuah paspor Indonesia bernomor B0819611.

“Status keduanya kurir. Mereka akan membawa sabu itu ke Madura lewat jalur laut dari Kijang, Bintan,” jelasnya.

Atas perbuatannya tersangka akan dijerat dengan pasal tindak pidana Narkotika, sebagaimana dimaksud dalam pasal 112 ayat (2) dan atau pasal 114 ayat (2) dan Jo pasal 112 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Selain menangkap kedua kurir narkoba, Ditresnarkoba Polda Kepri juga menetapkan seorang warga negara Malaysia berinisial S sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). S diduga sebagai pemilik narkoba dan memberikan barang tersebut saat di Malaysia untuk dibawa masuk ke Indonesia.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri, Benny Setiawan mengatakan, tak hanya jalur laut, jalur transportasi udara juga rawan penyelundupan barang terlarang, terutama narkoba. Sindikat narkoba diduga memanfaatkan longgarnya pemeriksaan di pintu-pintu masuk pelabuhan dan bandara untuk menyelundupkan barang terlarang tersebut. Tak sedikit dari sindikat narkoba ini yang berusaha merekrut anggota dari kalangan pekerja bandara, seperti pekerja porter dan lainnya.

“Dalam setahun terakhir (2014), BNNP dan Polda Kepri telah menangani 316 kasus penyahgunaan dan peredaran gelap narkoba, dengan jumlah tersangka 455 orang. Ini sangat memprihatinkan, karena jika diambil rata-rata ada 26 kasus narkoba per bulan,” katanya dalam sebuah kegiatan bersama porter bandara, beberapa waktu lalu.

Benny mengajak semua pihak ikut mewaspadai peredaran gelap narkoba di Kepri. Terlebih melihat geografis Kepri yang berbatasan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia, rawan menjadi pintu gerbang masuknya narkoba ke Indonesia.