Kapal FV Viking

Lantamal IV Limpahkan Berkas FV Viking ke Kejati Kepri

TANJUNGPINANG — Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjungpinang melimpahkan berkas dua tersangka kasus ilegal fishing FV Viking kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri, Selasa, 17 Mei 2016. Kedua tersangka adalah Nakhoda FV Viking Juan Domingo Nelson (57), warga negara Chili dan Kepala Kamar Mesin Gonzalez Cirilo Ramos Alcides (58), warga negara Argentina.

Pelimpahan berkas itu dilakukan Kadiskum Lantamal IV Letkol Laut (KH) Pryambodo dan diterima Kasipidum Kejati Kepri Dody T di kantor Kejaksaan Negeri Tanjungpinang. Menurut Dody, pihaknya tidak melakukan penahanan terhadap kedua tersangka, karena wilayah penangkapan berada di area Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

“Ini merupakan pelimpahan tahap kedua. Mereka tidak ditahan, tapi diawasi dengan ketat dan dititipkan di PSDKP Batam,” jelasnya.

FV Viking ditangkap KRI Sultan Thaha Saifudin-376 pada 25 Februari lalu pada posisi 12.5 nautical mile perairan utara berakit, Kepri. Kru kapal yang terdiri dari lima orang asal Argentina, Chili, Peru, Myanmar, dan enam warga Indonesia akan dijerat menggunakan hukum tentang perkapalan dan perikanan.

Kapal yang merupakan target incaran polisi internasional atau interpol berdasarkan permintaan pemerintah Norwegia sudah 13 tahun diburu karena menangkap ikan secara ilegal. FV Viking merupakan satu dari enam kapal yang digunakan untuk menangkap ikan toothfish Antartika dan tootfish Patagonia yang langka. Dari informasi Interpol, kapal tersebut sudah 13 kali berganti nama, 12 kali berganti bendera, dan 8 kali berganti call sign.

Kapal tanpa kebangsaan ini telah lama menangkap ikan secara ilegal di berbagai belahan dunia. Karena itu, Regional Fisheries Management Organization (RFMO) Samudra Antartika Selatan bernama Commission for the Conservation of Antarctic Marine Living Resources (CCAMLR) mengategorikan kapal ini sebagai kapal pelaku illegal fishing.

Pertengahan Maret lalu, kapal berukuran 1.322 GT itu diledakkan. Kapal ditenggelamkan separuh badan di Pangandaran untuk jadi monumen melawan illegal fishing.

Dody menjelaskan, pelimpahan berkas itu juga disertai dengan penyerahan barang bukti. Di antaranya paspor kedua tersangka, dua buah handphone, dan 17 item dokumen kapal FV Viking. Kedua tersangka bakal dijerat Pasal 93 Ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 45 Tahun 2009 atas perubahan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perikanan jo pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana penjara selama 6 tahun dan denda Rp20 miliar.

“Perkara akan dimasukkan ke pengadilan agar bisa segera disidangkan. Ada enam Jaksa yang akan menangani perkara ini,” ungkapnya. (eki)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *