Fadilla Malarangan

Mantan Direktur RSUD Pindah Tahanan ke Rutan Barelang

BATAM – Mengenakan batik panjang warna ungu bercorak bunga, Fadilla Malarangan terus berusaha menjaga jarak dengan awak media saat tiba di Rutan Barelang, Batam Selasa (10/5/2016). Wajahnya lesu, tak ada satu kata pun keluar saat ditanya media terkait kabar dan kasus yang membelitnya.

Mantan Direktur RSUD Embung Fatimah Batam itu tiba di rutan sekitar pukul 15.15, diantar menggunakan mobil Avanza hitam nopol BP 1832 EO. Mobil Avanza lainnya, warna putih nopol BP 1218 GC mengawal Fadilla menuju rutan. Di rutan, Fadilla akan menempati blok perempuan.

Kepala Kejari Batam Mohammad Mikroj menjelaskan, selain mempermudah proses pemberkasan, penahanan ini juga untuk memudahkan pemeriksaan terhadap Fadilla, sehubungan dengan kasus dugaan korupsi lain yang tengah ditangani Kejari Batam. Pihaknya menyiapkan 10 JPU yang menangani kasus Fadilla tersebut, terdiri dari 3 jaksa Kejaksaan Agung dan 7 jaksa dari Kejari Batam.

“Segera kita limpahkan ke pengadilan (Pengadilan Tipikor Tanjungpinang). Sebelum 20 hari, karena masa penahanannya 20 hari,” katanya.

Fadilla sebelumnya tiba sekira pukul 14.30 WIB di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, dibawa dari Jakarta oleh Tim Satgasus Kejaksaan Agung dan Dirtipidkor Mabes Polri, Kombes Pol Cahyono Wibowo. “Perkara ini sebelumnya ditangani oleh Mabes Polri. Kami terima limpahan tahap II dari Kejaksaan Agung, setelah berkasnya dinyatakan lengkap,” ujar Kasi Pidsus Kejari Batam Muhammad Iqbal kepada wartawan.

Tim Satgasus Kejaksaan Agung Tasjrifin menjelaskan, penyerahan Fadilla kepada Kejari Batam juga disertai dengan sejumlah barang bukti berupa berbagai dokumen dan uang tunai yang disita penyidik dari pihak rekanan.

“Dalam proses pelelangan, ada tugas dan tanggung jawab yang harus berpedoman pada Kepres, namun ada kesalahan yang merupakan perbuatan melawan hukum. Dan ini akan kami teruskan ke pengadilan,” katanya.

Pada 14 Januari 2016, Badan Reserse Kriminal Polri resmi menahan Fadilla dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan (alkes) tahun anggaran 2011. Proyek yang bersumber dari dana APBN itu, dipergunakan untuk pengadaan 96 jenis alkes di RSUD Embung Fatimah.

Berdasarkan pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kerugian negara dalam kasus itu mencapai Rp5,6 miliar. Bareskrim Mabes Polri juga telah melakukan penyitaan uang tunai sebesar Rp194 juta.

Modusnya mark-up harga barang. Seharusnya, sesuai dengan harga yang diajukan dalam harga perkiraan sendiri (HPS). Dalam kasus itu, Fadilla yang sudah ditetapkan tersangka sejak Mei 2015 bertindak selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

Pada 26 April 2016, Pemko Batam menunjuk Jeni Iryani menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Embung Fatimah, mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Fadilla. Sebelumnya, Jeni Iryani menjabat sebagai Wakil Direktur Umum dan Keuangan.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *