Sidang Neil dan Rebecca di Batam

Pakai Visa Turis, Jurnalis Inggris Divonis 2 Bulan Penjara

BATAM — Neil Richard George Bonner (32) dan Rebecca Bernadette Margaret Prosser (31) akhirnya bisa bernapas lega. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam memvonis kedua terdakwa pembuat film dokumenter tentang pembajakan di Indonesia dengan visa turis itu 2 bulan 15 hari penjara dan denda Rp25 juta, subsidair 1 bulan penjara.

Mendengar putusan majelis hakim itu, Neil dan Rebecca tampak gembira. Kedua jurnalis Inggris itu langsung tersenyum dan berpelukan begitu Ketua Majelis Hakim PN Batam Wahyu Prasetyo Wibowo mengetok palu tanda berakhirnya sidang.

Ketua Majelis Hakim menyatakan tidak ada kemungkinan lain bahwa Rebecca Prosser dan Neil Bonner menyadari telah melakukan pelanggaran dengan melakukan pekerjaan sebagai jurnalis padahal hanya berbekal visa turis. Mengingat jurnalis asing yang ingin meliput di Indonesia memerlukan visa khusus bagi jurnalis.

Neil dan Rebecca dinyatakan terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 122 huruf a UU Nomor 06 tahun 2011 tentang Keimigrasian Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, karena menyalahi izin tinggal selama 7 hari (Visa On Arrival) yang diperuntukkan wisata dan sosial budaya. Ketua Majelis Hakim memberi waktu selama dua hari kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) apakah akan banding atau tidak.

“Bila selama dua hari tidak ada jawaban, maka keduanya harus dilepaskan,” kata Wahyu Prasetyo didampingi Hakim Anggota Budiman dan Juli Handayani, Selasa (3/11/2015).

JPU Bani Imanuel Ginting akhirnya menerima keputusan Majelis Hakim PN Batam terhadap kedua jurnalis Inggris itu. Ia juga menyatakan bahwa Kepala Kejaksaan Negeri Batam telah menandatangani berita Surat Perintah Pelaksanaan Putusan Pengadilan (P48), sehingga Neil dan Rebecca bebas.

“Kami menerima keputusan Majelis Hakim,” ujar Bani.

Kabid Kepala Bidang Pengawasan dan Tindak keimigrasian (Wasdakim) Rafli menjelaskan, setelah menjalani putusan vonis, kedua jurnalis itu akan dideportasi langsung ke London melalui Jakarta. Sebelum terbang ke London, keduanya akan diserahkan kepada Kedutaan Besar Inggris di Jakarta.

“Berhubung di Batam tidak ada rute pesawat langsung ke Inggris, mereka akan diterbangkan dari Jakarta,” jelas Rafli.

Neil dan Rebecca ditangkap pada 28 Mei 2015 lalu, saat sedang riset atau maping film dokumenter tentang perompakan di perairan Kepri, tepatnya di kapal Ocean Maru dekat Pulau Serepat Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam. Ia ditangkap bersama 11 orang lainnya oleh tim Reaksi Cepat TNI Angkatan Laut Batam yang terdiri dari pasukan Lantamal IV Tanjungpinang, Lanal Batam, dan Batalyon Marinir 10 SBY.

Neil dan Rebecca adalah dua jurnalis yang bekerja untuk rumah produksi Wall to Wall Limited, London, Inggris. Rencananya film dokumenter tentang penanganan perompakan di Selat Malaka yang akan ditayangkan di National Geographic itu akan melibatkan tiga negera yakni, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Namun karena belum mendapatkan izin melakukan kegiatan pembuatan film oleh pihak Kedutaan Indonesia di London, dan juga film tersebut diduga akan membuat citra buruk Pemerintah Indonesia di mata dunia, Neil dan Rebecca akhirnya ditangkap. Keduanya diduga menyalahgunakan izin dan melakukan aktivitas pembuatan film dokumenter secara ilegal serta melanggar UU RI tentang Keimigrasian dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

Kasi Pidum Kejari Batam Ali Akbar mengatakan, Neil dan Rebecca yang ditahan karena pelanggaran visa, lebih tampak sebagai pembuat film daripada jurnalis. Ini disimpulkan dari dokumen yang disita.

“Tak sedikitpun yang menjelaskan jika kedua warga Inggris ini berprofesi jurnalis. Namun mereka lebih kepada perusahaan untuk memproduksi film. Neil bertugas sebagai juru kamera dan Rebecca sebagai produser wall to wall company,” katanya.

Menurut Ali, seorang jurnalis tak memproduksi film. Kedua warga asing ini juga dinilai sudah mempunyai perencanaan yang cukup matang. Padahal mereka hanya bermodalkan Visa on Arrival yang memiliki batas waktu tinggal tujuh hari.

“Kami lihat dari barang buktinya, perencanaan pembuatan film mereka sudah matang. Seperti adanya produser, setting area, para pemain hingga peralatan yang digunakan untuk membuat film,”sebut Ali.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *