loading...
Pencarian Penumpang KM SInar Bangun Masih Terus Berlanjut | We Give The Real Solutions

Pencarian Penumpang KM SInar Bangun Masih Terus Berlanjut

Total penumpang KM Sinar Bangun meninggal dunia yang ditemukan menjadi 3 orang. Tim gabungan masih melakukan penyisiran mencari korban tenggelam di kapal tersebut.

“Sampai dengan pagi ini pukul 07.00 WIB dari tim SAR bahwa korban selamat 18 orang, meninggal dunia 3 orang,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Agus Santoso di Posko Mudik Nasional Kemenhub, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (20/6/2018).

Agus memaparkan, sejumlah 94 orang penumpang hilang sudah teridentifikasi. Namun masih ada 92 penumpang hilang yang belum teridentifikasi.

“Hilang sudah teridentifkasi 94 orang. Yang belum teridentifikasi 92 orang. Itu data terakhir yang diterima tim SAR,” jelas Agus.

Petugas Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ardianto menambahkan, sejauh ini penyebab tenggelamnya kapal belum bisa dipastikan. Tim investigasi sudah diturunkan untuk menganalisis kejadian tersebut.

“Saat ini sudah ada tim investigator di lokasi. Masih melakukan investigasi, sehingga kami belum bisa menyimpulkan,” ujar Ardianto.

KM Sinar Bangun tenggelam sekitar pukul 17.30 WIB, Senin (18/6). Kapal tenggelam saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir menuju ke Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Ada 18 orang yang ditemukan selamat.

Upaya pencarian dengan menggunakan Alat Remotely Operated Vehicle (ROV), robot bawah air milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengalami kendala setelah berhasil mengidentifikasi jenazah korban penumpang KM Sinar Bangun di dasar Danau Toba, Sumatera Utara. Robot itu kini terbenam karena tidak bisa diangkat lagi ke permukaan akibat terlilit tali di titik kapal yang tenggelam. “Tim masih berupaya melepaskan lilitan tali itu,” kata Direktur PT Mahakarya Geo Survey Henky Suharto, Jumat siang, 29 Juni 2018.

Henky ikut mengorganisasi beberapa instansi dalam misi pencarian, seperti BPPT, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), dan Kementerian Koordinator Kemaritiman.

Di dalam air, ROV bisa diarahkan untuk menangkap citra obyek berupa gambar video dan foto dengan penerangan lampu. Dalam kondisi tersangkut, alat sementara dimatikan sambil menunggu rencana evakuasi.

“Risiko alat dalam kondisi ini dapat menyebabkan cable umbilical putus dan tertinggal di dasar danau,” kata Henky. Solusinya, posisi kapal harus dijaga agar optimal menjaga tension dengan ROV umbilical. “Tidak boleh sampai terlalu tegang, yang bisa menyebabkan umbilical putus dan ROV hilang,” katanya.

Kamis kemarin, tim gabungan Basarnas mendapat visualisasi beberapa jenazah, sepeda motor, dan lain-lain. Beberapa di antaranya dalam posisi setengah terpendam material lumpur. Adapun KM Sinar Bangun, kata Henky, belum terlihat jelas pada misi penyelaman ini.

Menurut laporan Okezone. Tim Gabungan SAR memaksimalkan penggunaan ROV dan Trawl untuk mengevakuasi kapal penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara. Diperkirakan, kapal masih dalam kondisi seperti semula, dan korban yang mengalami pembekuan sehingga tidak mengambang, berserak di sekitarnya.

“Sementara ini kita berdayakan dan maksimalkan ROV dan trawl (jaring pukat),” kata Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan SAR, Brigjen TNI Nugroho Budi W, Jumat, di Posko Basarnas di Pelabuhan Tiga Ras Kabupaten Simalungun.

Trawl diupayakan mengait tali kapal supaya bisa ditarik KMP Sumut ke atas, hasil gambar ROV yang berjarak pandang 1-2 meter lebih dimaksimalkan. Memaksimalkan ROV dan Trawl salah satu upaya Tim SAR, dan sampai saat ini Tim masih melakukan koordinasi dengan lembaga kementerian terkait untuk proses evakuasi kapal penumpang KM sinar Bangun yang tenggelam itu.

Hasil rekaman ROV di kedalaman 450 meter Danau Toba pada operasi pencarian korban karam hari ke-11 menyebutkan, posisi bangkai Kapal Motor (KM) Sinar Bangun sudah ditemukan,  berada  di sekitar tiga kilometer dari Pelabuhan Tigaras.

Dugaan ini diperkuat dengan terlihatnya beberapa sepeda motor, bagian-bagian kapal, dan mayat korban. Sampai hari ke-13 ini, tim SAR gabungan masih menggunakan ROV dibantu dua pukat harimau yang diturunkan dari KMP Sumut I dan KMP Sumut II. Namun bukan hal mudah untuk mengevakuasi para korban dan mengangkat bangkai kapal, kedalaman danau menjadi kendala utama yang juga berdampak bagi para penyelamat.

“Harus kami pikirkan matang-matang soal keselamatan, bagaimana kami bisa menolong dan objek bisa terangkat. Alat baru untuk membantu ROV juga sudah didatangkan, ditambah beberapa personel TNI AL dari pusat untuk membantu pencarian,” kata Kepala Kantor SAR Medan Budiawan, Sabtu (30/6/2018).

Opsi pertama adalah merelakan para korban tetap berada di dasar danau. Lalu opsi kedua, tetap akan dilakukan pengangkatan jasad korban tapi memerlukan waktu yang lama. Sambil menunggu keputusan itu, pihaknya terus melakukan pencarian dari udara menggunakan helikopter dan penyisiran di lokasi target dengan perahu karet.

“Kami minta doa masyarakat supaya KM Sinar Bangun bisa secepatnya diangkat, tim SAR masih bekerja,” pungkasnya.

Peristiwa tragis karamnya KM Sinar Bangun menjadi catatan penting bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) dalam hal pengelolaan pariwisata. Utamanya untuk memperbaiki keselamatan, keamanan dan kenyamanan di kawasan pariwisata. Apalagi Danau Toba yang sedang proses pengusulan untuk diterima menjadi anggota UNESCO.

“Berikan penekanan pada pengelolaan pariwisata. Kesalahan dan permasalahan yang terjadi selama ini tidak boleh terulang lagi, itu merusak citra pariwisata kita sendiri,” kata Pejabat Gubernur Sumut Eko Subowo.

Dunia wisata, menurutnya, tidak bisa lepas dari keunggulan pelayanan kepada pengunjung. Sebab jika mengandalkan fasilitas seperti infrastruktur yang bersifat fisik, belum tentu membuat wisatawan tertarik datang. Sehingga perlu ada jaminan keselamatan, keamanan dan kenyamanan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK).

“Transportasi kita sedang mengalami persoalan, harus dilakukan perbaikan untuk keselamatan, khususnya transportasi danau. Pertama kita perbaiki SOP dan NSPK-nya, misalnya spesifikasi dan pelayanan. Dermaga juga harus berstandar,” ucap dia.