Tahanan Lari, Pembangunan Rutan Dikorupsi

BATAM — Sabtu (14/11/2015) itu hutan sekitar perumahan Villa Mukakuning, Sagulung, tak seteduh biasanya. Seorang lelaki mengendap-endap, berlari dari satu pohon ke pohon lainnya. Keringatnya mengucur dibalik rimbun pepohonan, membasahi rumput dan tanah yang diinjaknya.

Dalam sunyi hutan itu, hanya bunyi derap sepatu dari beberapa kaki yang ia khawatirkan. Derap sepatu yang terus mengejarnya itu kian lama kian jelas, mendekat di sekitar pohon tempatnya bersembunyi.

“Dorrr,” suara sebuah tembakan itu menjadi puncak kekhawatirannya.

Di sekitar dilihatnya beberapa orang berpakaian coklat dengan senjata lengkap. Tak ada pilihan, Martunis, lelaki yang tengah sembunyi di hutan itu pun menyerahkan diri kepada beberapa orang berpakaian coklat, yang tak lain adalah polisi.

Martunis merupakan satu dari tujuh tahanan yang kabur dari Rutan Klas IIA Batam. Pada Jumat (13/11/2015), 19 tahanan kasus narkoba berhasil kabur dari rutan yang berlokasi di belakang Lapas Barelang di Tembesi tersebut. Mereka memanfaatkan minimnya penjagaan saat salat Jumat dan kabur dengan merusak pintu dekat masjid rutan. Setelah itu mereka melanjutkan dengan merusak gembok dan menarik pintu samping rutan, kemudian lari berpencar keluar.

Petugas rutan, polisi, dan warga akhirnya menangkap kembali 12 tahanan yang kabur hari itu, sedangkan 7 tahanan lainnya lolos. Ke-7 tahanan itu adalah Roili Sahreza bin Usman, Hafizan alias Kecut bin Mokhtar, Awi alias Mansur bin Zulkifli, Martunis bin Mahmud Abi, Hendri Sufirman bin Fakrurrazi, Ahyar bin Mali, dan Sapriadi alias Iwan bin Dahlan.

Keesokan harinya, polisi hanya mampu menangkap kembali lelaki Aceh itu yang sembunyi di hutan sekitar perumahan Villa Mukakuning. Sedangkan 6 tahanan lainnya masih buron.

Kasat Reskrim Polresta Barelang Kompol Yoga Buana Dipta Ilafi mengatakan, proses pengejaran terhadap 7 tahanan yang kabur memakan waktu dan usaha yang keras.

“Yang enam belum ditangkap, masih dalam pengejaran,” ujarnya.

Kaburnya tahanan dari Rutan Batam tak hanya kali ini saja terjadi. Pada Juli 2013 lalu, 12 tahanan juga berhasil kabur dari rutan yang berlokasi di samping Mapolresta Barelang di Baloi. Mereka kabur saat petugas jaga usai apel pergantian shift, dengan mengeroyok dan menyiramkan air cabai ke wajah petugas, lalu menjebol jendela ruang Kepala Rutan.

Kali ini kaburnya tahanan terjadi di gedung Rutan Batam yang baru beberapa bulan di tempati. Di rutan itu ada sekitar 694 tahanan, 200 orang di antaranya menghuni blok narkorba.

Tidak hanya kaburnya tahanan, pembangunan rutan itu juga bermasalah. Tepat pada hari kaburnya tahanan, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang menjatuhkan vonis 3 tahun dan 6 bulan penjara kepada Raden Nurman Sapta Gumbira, terdakwa kasus dugaan korupsi pembangunan Rutan Batam.

Raden Nurman Sapta Gumbira merupakan calo proyek dalam pembangunan Rutan Batam. Ia diduga menerima Rp460 juta dari Rp1,2 miliar fee penjualan proyek dari Direktur CV Duta Nusantara, Ari Nurcahyo yang terlebih dulu di vonis dalam kasus dengan dugaan kerugian negara sekira Rp3,24 miliar tersebut. Selain itu terdakwa Raden Nurman Sapta Gumbira juga sempat menjadi buronan pihak Kejaksaan Tinggi Kepri.

Ketua majelis hakim Dame Parulian Pandiangan yang memimpin jalannya sidang tersebut mengatakan, terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan sengaja menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.

Selain menjatuhkan pidana penjara, terdakwa juga dihukum untuk membayar uang pengganti atas kerugian negara yang timbul dalam kasus ini sebesar Rp460 juta.

“Bilamana terdakwa tidak memiliki harta benda yang mencukupi untuk mengganti uang pengganti yang dibebankan kepada terdakwa, maka akah dijatuhi pidana selama 2 tahun,” kata Dame.

Putusan yang dijatuhi majelis hakim ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang sebelumnya. Saat itu, JPU dari Kejati Kepri Yuyun Wahyudi dan Noviandri di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 5 tahun, denda Rp 50 juta subsider 4 bulan kurungan, mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 460 juta dan kalau tidak dibayar diganti dengan hukuman badan selama 2 tahun 6 bulan.