loading...
Uang Palsu Rp16 Juta Gagal Beredar | We Give The Real Solutions

Uang Palsu Rp16 Juta Gagal Beredar

TANJUNGPINANG – Pedagang Teluk Keriting, Kecamatan Tanjungpinang Barat nyaris terkecoh oleh pengedar uang palsu yang berpura-pura membeli barang, Minggu (27/12/2015). Saat menerima pembayaran uang pecahan Rp50 ribu, pedagang tersebut merasa curiga lalu melaporkannya ke polisi.

Jajaran Polres Tanjungpinang dan Polsek Tanjungpinang Barat meluncur ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Setelah diteliti secara manual maupun melalui bank, dipastikan bahwa uang yang dicurigai tersebut benar-benar palsu.

“Setelah dicek secara manual dan dilakukan pengecekan ke bank, ternyata benar uang ini palsu,” ujar Kapolres Tanjungpinang AKBP Kristian Siagian.

Polisi lalu menangkap pelaku peredaran uang palsu, MJ (36). Selain itu juga disita uang palsu sekira Rp16 juta, terdiri dari 276 lembar uang palsu pecahan Rp50 ribu dan 43 lembar uang pecahan Rp50 ribu yang belum dipotong.

Kristian mengungkapkan, peredaran uang palsu itu dilakukan MJ melalui anaknya, dengan menyuruhnya berbelanja di warung. Diduga sejumlah uang palsu sudah beredar dan dibelanjakan di masyarakat. Sisanya, disimpan di semak belakang gudang pabrik tahu milik MJ yang berlokasi di Jalan Haji Fisabilillah, Kilometer 8.

Berdasarkan pengakuan pelaku kepada polisi, uang palsu itu didapatkan dari rekannya yang ada di Yogyakarta pada 2009 lalu. Untuk mengelabui pemeriksaan petugas, uang-uang palsu itu dibawa dengan cara dililitkan di tubuh.

“Dibawa kesini (Tanjungpinang) menggunakan pesawat dengan melilitkan uang palsu tersebut di badan, punggung, dan selangkangan untuk menghindari pemeriksaan petugas di bandara,” ungkapnya.

MJ sendiri mengaku baru sekali ini menggunakan uang palsu untuk belanja, meski telah mendapatkannya sejak enam tahun lalu. Ia juga mengaku disuruh Anton dan diupah Rp3 juta untuk mengedarkan uang palsu itu.

”Baru semalam uang itu saya gunakan dan suruh anak untuk belanja. Teman saya Anton yang menyuruh edarkan, informasi yang saya dapat Anton itu juga sudah meninggal beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Kristian menjelaskan, perbuatan pelaku melanggar Pasal 26 Ayat (2) dan (3) junto Pasal 36 Ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang junto Pasal 245 KUHPidana dengan ancaman penjara 15 tahun.

Kristian juga mengimbau agar warga selalu waspada terhadap setiap transaksi penjualan dengan tidak melihat siapa yang datang, tapi perhatikan uang yang diterima dari pembeli. Masyarakat juga harus teliti untuk membedakan mana uang asli dan mana yang palsu, karena bentuknya sangat mirip.

Ciri-ciri khas uang rupiah bisa dikenali dengan unsur pengalaman atau metode 3D (diterawang, diraba, dilihat) atau pakai alat sederhana seperti lup. Warna uang kertas palsu tidak setajam atau sebagus uang asli. Pada uang asli bisa dilihat pada bagian kiri bawah ada optical variable x. Proses atau teknik cetak uang asli dengan pigment tinta khusus. Dengan begitu bisa dikatakan warnanya akan berubah-ubah seiring perubahan sudut pandang mata kita.

Begitu juga dengan benang pengaman uang asli. Benar itu akan berubah warna kalau dilihat dari sudut pandang tertentu. Kalau palsu tidak menghasilkan efek perubahan warna. Kalau yang asli terasa kasar, karena dicetak dengan tinta khusus. Lambang negara harusnya juga kasar.

Selain itu jika kertas palsu kita terawang, ada tanda airnya yang dicetak dengan teknik sablon. Sedangkan uang asli ada tekstur khusus yang membuat permukaan kertas timbul. Hal tersebut yang membuat kertas terasa ada tekstur kasar ketika merabanya. Proses pembuatan tekstur itu bersamaan dengan pembuatan kertas. Sedangkan uang kertas palsu proses membuat permukaan kasar hanya dengan bantuan tinta sablon.

”Memasuki pergantian tahun, mungkin ada oknum-oknum yang memanfaatkan uang palsu. Perbedaan menonjol dalam bentuk tekstur kertasnya, uang palsu jika dipegang pasti licin, sedangkan uang asli ada seratnya dan kaku,” ujar Kristian.