Wirausaha Muda Tersandera Perkara

Pria muda itu masih tampak tegar menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (3/11/2015). Ia mengenakan kaos tahanan Kejaksaan Negeri Batam warna merah, celana kain dan sandal warna hitam. Tangan kirinya terborgol dengan tangan kanan pria dewasa yang ada di samping kirinya.

Pria muda berusia sekitar 20 tahun itu adalah Kevin Chuandra. Sedangkan pria dewasa yang ada di sampingnya tak lain adalah ayahnya, Chua Kuang Hua alias Ahuat. Ayah dan anak kandung itu sama-sama didakwa dalam dugaan tindak pidana.

Ini merupakan kali kedua bagi Kevin didakwa dengan perkara yang sama. Pertengahan Januari 2015 lalu ia didakwa melakukan tindak pidana memproduksi atau memperdagangkan barang dan jasa yang tidak sesuai dengan berat bersih sebagaimana tertera dalam label barang. Ia dituntut pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan. Oleh PN Batam, ia dinyatakan secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 8 ayat (1) huruf b Junto Pasal 62 ayat (1) Undang-undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan dijatuhi pidana penjara selama 8 bulan.

Baru sekitar sebulan menghirup udara bebas, ia kembali terjerat kasus yang sama. Bedanya, dalam kasus yang kedua ini, ayahnya ikut terseret dan dipenjara bersamanya. Ia dan ayahnya sudah ditahan oleh penyidik sejak 5 Juni 2015 lalu. Kemudian diperpanjang dari 25 Juni hingga 3 Agustus, ditahan penuntut dari 4 hingga 23 Agustus, ditahan hakim PN Batam pada 19 Agustus hingga 17 September dan diperpanjang lagi pada 18 September hingga 16 November.

Kasus ini bermula dari aktivitas usaha yang Kevin lakukan. Sebagaimana warga keturunan Tionghoa lainnya, Kevin tumbuh di lingkungan keluarga yang giat bekerja, terlatih menghadapi masalah dan cepat menyesuaikan bisnis. Di usianya yang masih muda, ia berusaha memupuk jiwa kewirausahaan yang ia miliki, lepas dari menggantungkan hidup dari keringat orangtuanya. Ia mencoba mandiri, salah satunya dengan mencari untung dari selisih penjualan elpiji 12 atau 50 kilogram.

Kevin bukanlah sebagai karyawan “anak mama” yang menunggu tanggal gajian. Ia terasah mempunyai naluri dan segera mengambil tindakan dengan risiko yang tinggi.

Elpiji yang dibelinya dari agen tersebut lalu dimasukkan dalam beberapa tabung dengan ukuran lebih kecil. Baru kemudian dipasarkan dan dijual kepada pelanggan.

Apa yang ia lakukan tak jauh beda dengan penjual premium atau bensin dalam botol plastik air mineral ukuran 1,5 liter. Memang harga bensin dalam botol plastik itu lebih mahal dibanding membeli langsung di SPBU, karena selisih itulah yang menjadi keuntungan penjual. Tak ada yang merasa dirugikan, konsumen tak perlu membeli jika merasa tidak cocok dengan harga yang ditawarkan.

Kevin juga tak merasa ada yang janggal dengan usahanya. Sebab yang djual kembali dengan ukuran berbeda bukan elpiji subsidi ukuran 3 kg.

Tidak semua elpiji yang dibeli dari agen itu dijual kembali. Sebagian dimanfaatkan Kevin untuk usaha laundry, khususnya sebagai bahan bakar mesin pengering. Elpiji 12 kg dan 50 kg itu dibeli Kevin dari agen. Hasil usahanya itu ia gunakan untuk meringankan beban hidup dan membantu ekonomi keluarganya. Bahkan ia sanggup mempekerjakan karyawan.

Basana (49), pimpinan salah satu perusahaan agen elpiji 12 kg dan 50 kg di Batam membenarkan bahwa Kevin pernah membeli elpiji darinya. Namun bukan Kevin atau ayahnya yang datang langsung membeli elpiji tersebut, tapi anak buahnya.

“Berdasarkan catatan, periode Januari sampai April 2015 tak ada pembelian dari Kevin ke agen saya. Baru pada Mei 2015 ada beli, sekitar 20 tabung, campur 12 kg dan 50 kg,” ungkapnya.

Menurut Basana, tak ada syarat dan batasan bagi seseorang untuk membeli elpiji 12 kg atau 50 kg dari agen. Sebab elpiji tersebut bukan subsidi, sehingga bebas dibeli, baik oleh individu ataupun perusahaan.

“Beda dengan elpiji 3 kg, pembeliannya dibatasi maksimal dua. Tapi kalau elpiji 12 kg dan 50 kg, karena bukan barang subsidi, pengambilannya tidak dibatasi,” katanya.

Basana menjelaskan, elpiji dari agen dibedakan berdasarkan warna segel. Elpiji yang berasal darinya diberi segel warna kuning.Sementara agen yang lain memberi segel elpijinya dengan warna berbeda.

“Kalau segel itu sudah dibuka, kami tidak tahu dari agen mana elpiji itu berasal,” jelasnya.

Usaha Kevin yang awalnya berjalan lancar, terancam berantakan sejak ia dijerat dengan kasus hukum. Bahkan dalam kasus kedua, anak sulung dari dua bersaudara ini dijerat bersama ayahnya. Padahal kedua pria ini adalah tulang punggung keluarga.

Keduanya dijerat pasal berlapis. Pertama Pasal 62 Ayat 1 Junto Pasal 8 Huruf b UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Junto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Kedua primair Pasal 53 Huruf b UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Junto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP, subsidair Pasal 53 Huruf c UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Junto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Kasus tersebut sekaligus menghentikan denyut aktivitas usaha wirausaha muda itu. Selama dipenjara, ia tak bisa lagi menjalankan aktivitas usaha seperti biasa. Kasus seperti ini bisa jadi akan dialami wirausaha-wirausaha muda lainnya di Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia tengah gencar mendorong kemajuan ekonomi melalui pengembangan Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Saat ini, jumlah wirausaha Indonesia baru 1,65 persen dari total penduduk pada kuartal II/2014. Jumlah tersebut masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang masing-masing mencapai 5% dan 7%.

Bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat, perbandingannya lebih jauh lagi. Di Jepang, komposisi wirausahanya mencapai 10 persen dan Amerika Serikat mencapai 12 persen dari total populasi.

Padahal Indonesia dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru dengan mengoptimalkan semangat kewirausahaan. Pasalnya, untuk menjadi sebuah negara dengan ekonomi yang maju, negara tersebut paling tidak perlu memiliki jumlah wirausaha minimal 2% dari total populasi.

Mengingat proses melahirkan wirausaha itu penting, keberpihakan terhadap wirausaha lokal sangatlah diperlukan. Sekalipun Indonesia memerlukan investor untuk membiayai infrastruktur, keberpihakan terhadap wirausaha lokal sangat diperlukan. Indonesia adalah salah satu negara sasaran investasi.

Kevin adalah salah satu generasi muda yang memiliki semangat kewirausahaan yang tinggi. Namun semangat itu kini memudar, karena dihadapkan dengan perkara.