Yvonne Seharusnya Bebas Dari Segala Tuntutan

BATAM — Tan Mei Yen alias Yvonne, terdakwa kasus dugaan penggelapan PT EMR Indonesia senilai Rp36 miliar menyampaikan pledoi (pembelaan) dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (13/4/2016). Dalam pembelaan tertulis yang dibacakan penasihat hukumnya, Yvonne meminta majelis hakim membebaskannya dari segala tuntutan.

Sejumlah alasan dibeberkan Yvonne di depan majelis hakim yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo, didampingi Juli Handayani, dan Tiwik tersebut. Di antaranya, jabatannya di perusahaan hanyalah admin senior atau karyawan biasa. Kedekatannya dengan sang Direktur Perusahaan, Koh Hock Liang bukanlah sebagai istri, namun karena mendapat tugas untuk mengoordinir kinerja karyawan di perusahaan, terutama di bidang keadministrasian.

Tugas itu diberikan kedua bosnya, Direktur Koh Hock Liang dan Teng Leng Cuan selaku Komisaris Perusahaan, dengan pertimbangan Yvonne lebih lancar berkomunikasi dengan karyawan, meski menggunakan bahasa Melayu.

Karena hanya karyawan biasa, penasihat hukum menyatakan bahwa Yvonne tidak memiliki kewenangan dalam pengambilan kebijakan di perusahaan, sebagaimana dituduhkan dalam dakwaan. Sehingga apapun yang Yvonne lakukan, seperti penimbangan besi scrap, penentuan harga kepada pembeli, hingga mengambil uang pembayaran, adalah berdasarkan perintah bosnya Koh Hock Liang.

“Terdakwa single parent yang harus menghidupi dua anaknya yang berkewarganegaraan Malaysia. Keberadan terdakwa di Batam adalah untuk mencari penghasilan yang lebih baik di PT EMR Indonesia, setelah adanya tawaran bekerja dari Mr Teng Leng Cuan dan Koh Hock Liang. Namun di Batam, terdakwa justru dituntut sedemikian rupa oleh jaksa penuntut umum,” kata Penasihat Hukum Andi Wahyudin.

Dalam pembelaannya, Tan Mei Yen juga menyampaikan terima kasih kepada majelis hakim PN Batam yang telah memindahkannya dari tahanan penjara ke tahanan kota. Ia berharap hakim mengabulkan permohonannya agar dibebaskan dari segala dakwaan, karena ia bukanlah orang yang bersalah dalam perkara yang terjadi antara Teng Leng Cuang dan Koh Hock Liang di PT EMR Indonesia. Apalagi bosnya Koh Hock Liang telah dinyatakan bebas berdasarkan putusan banding di Pengadilan Tinggi Pekanbaru atas kasus yang sama.

“Kami berharap majelis hakim obyektif dan memiliki nurani hukum, karena dengan bebasnya Koh Hock Liang, seharusnya Tan Mei Yen dibebaskan dari segala tuntutan penuntut umum,” ujar Andi. (red)